Opini: Awal Nompo, Pemuda Penggerak Warga Kepulauan Tanakeke

430

SULSELBERITA.COM. Takalar - Pemuda yang akrab disapa dengan Daeng Nompo aktif menggerakkan masyarakat untuk rehabilitasi dan perlindungan mangrove di Pulau Tanakeke, Kab.Takalar, Sulawesi Selatan. Dia juga menyumbangkan beragam gagasan untuk pengembangan penghidupan dan pembangunan Tanakeke. Inspirasinya kemudian mendorong pemuda-pemuda di setiap dusun untuk melakukan hal yang sama.

Dilansir dari tulisan BlueForests di media sosial Facebook,  pada Tahun 2012 melalui fasilitasi Daeng Nompo, 18 orang pemuda dan pemudi Tanakeke membangun jejaring penggerak masyarakat di Tanakeke bernama Forum Community Organizer (Pengorganisasian Masyarakat). Jejaring ini aktif mendampingi dan menggerakkan masyarakat di masing-masing dusun.

Setelah menyelesaikan studi ilmu pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar, dia kembali ke desanya. Bersama pemuda penggerak di masing-masing dusun, mereka memfasilitasi masyarakat untuk melakukan rehabilitasi mangrove di lahan seluas 512 ha yang terdapat di 4 desa se-Kepulauan Tanakeke. Lahan-lahan ini pada awalnya merupakan hutan mangrove dan pada periode 1980-an dikonversi menjadi tambak budidaya udang dan ikan bandeng.

Baca Juga  Babinsa Kelurahan Serengan Komsos Dengan Warga Yang Akan Mendaftar TNI

Namun kini tambak-tambak tersebut sebagian besar sudah terlantar karena produktivitasnya yg menurun dan peralihan mata pencaharian masyarakat. Kerja yang tidak mudah tentunya, tapi kemampuan bernegosiasinya bisa menyakinkan para "pemilik" lahan tambak untuk merehabilitasi kembali menjadi kawasan mangrove.

Inisiatif ini ditindaklanjuti dengan membangun kesepahaman masyarakat dan mendorong lahirnya kebijakan tingkat desa untuk pengelolaan mangrove yg berkelanjutan dalam bentuk peraturan desa. Peraturan lokal yang diharapkan bisa mengendalikan pemanfaatan mangrove di Tanakeke. Tentu agar pemanfaatan untuk kayu bakar, arang dan kebutuhan kayu untuk budidaya perikanan dan bahan bangunan bisa berimbang dan sejalan dengan dengan kebutuhan perlindungan dan pelestarian.

Daeng Nompo juga memfasilitasi terbentuknya kelompok Womangrove (woman mangrove) yang beberapa tahun terakhir aktif melakukan upaya-upaya monitoring dan perbaikan rehabilitasi mangrove di Tanakeke. Kelompok ini terdiri dari 15 orang perempuan di 8 area rehabilitasi.

Baca Juga  Bhabinkamtibmas Sambangi Mini Market Dan Sosialisasikan Cara Pencegahan Penularan Virus Corona

Perubahan dan pemanfaatan mangrove yang lebih baik di Tanakeke hanya bisa lahir jika kami masyarakat punya semangat berubah. Bergerak bersama untuk perbaikan. Pada kaum muda Tanakeke lah hal ini dititipkan, katanya.

Awal Dg Nompo menginsipirasi pemuda Tanakeke untuk berbuat dan bersama-sama bergerak untuk masa depan yang lebih baik.

Advertisement
BAGIKAN