Anak “Punk” Sebuah Realita Ditengah Tengah Masyarakat (Opini)

1404

SULSELBERITA.COM. Takalar - Dalam hidup kadang tak ada hal yang tak selamanya berjalan dengan apa yang kita kehendaki dan harapkan sehingga kita akan membuat suatu keputusan yang nantinya akan mengubah pola fikir serta tingkah laku kita hingga akhirnya kita menjadi pribadi yang baru dan lain dari pada yang lain.

Anak "Punk" adalah salah satu istilah jaman old yang masih bertahan hingga jaman now yang disematkan kepada anak-anak yang sering berpenampilan aneh, compang-camping, dan rambut yang acak serta berwarnah lalu menghabiskan waktu mereka di sekitaran alun-alun Makkatang Dg.Sibali Kabupaten Takalar dengan bermain musik serta bersolek bergembira riang sepanjang hari di kala ngumpul dengan kawan-kawannya.

Sejarah Punk adalah sejarah perlawanan dan pemberontakan terhadap sistem pemerintahan yang kolot dan menindas masyarakat yang disalurkan melalui mediumnisasi musik sebagai bentuk ekspressi dan alunan musik yang keras menjadi simbol penuntutan kebebasan serta kemerdekaan.

Baca Juga  Peduli Korban Banjir Luwu Utara, Satlantas Polres Gowa Kumpulkan Pakaian Layak Pakai
Advertisement

Aku tak mau terlalu jauh membahas soal "Punk" dan substansinya, namun di sini saya melihat suatu hal yang perlu mendapat sentuhan dari pemerintah untuk melihat sisi lain dari anak-anak "punk" di alun-alun Makkatang Dg Sibali.

Di sini saya ingin menyebut mereka pemuda-pemuda potensial Kabupaten Takalar yang senantiasa meramaikan alun-alun sebagai pusat ruang publik di wilayah kota Takalar yang tentunya punya bakat masing-masing yang perlu untuk dibina serta dikembangkan, Di antara mereka saya yakini banyak yang punya potensi khususnya di bidang seni, sehingga ketika mereka dibuatkan wadah pembinaan pemerintah serta masyarakat tidak akan lagi memandang mereka sebelah mata karena mereka telah memiliki karya yang bisa mereka persembahkan.

Tak banyak hal yang ingin saya suarakan atas kerisauaan ini, akan tetapi saya hanya lebih ingin menekankan kepada khalayak umum jika mereka adalah adik-adik, saudara, atau bahkan anak-anak kita yang memerlukan uluran tangan serta perhatian yang bisa membuat mereka menjadi sebuah komunitas yang punya nilai jual yang tinggi karena keahlian serta kemampuannya.

Baca Juga  Kapolda Sulsel Sigap Beri Air Minum Gubernur di Acara Hari Jadi Sulsel

Mereka bukan orang yang tersesat, akan tetapi mereka punya jalan yang mereka anggap benar dalam menjalankan kehidupannya. Mereka juga bukan orang yang berada di kegelapan, akan tetapi mereka hanya lebih menggandrumi ketenangan malam bersama lentera, mereka bukan orang yang berisik, akan tetapi mereka hanya ingin mendapat perhatian karena itu mereka berteriak.

Advertisement
BAGIKAN