Opini: SYAMSARI KITTA & RECEP TAYYIP ERDOGAN, Pemimpin Yang Kuat & Masa Depan Yang Lebih Baik

0
846

Penulis: Aristo Safar (aktifis Muda Takalar)

SULSELBERITA.COM. Takalar - Jika pada tulisan sebelumnya saya telah mengurai secara singkat mengenai kesamaan gaya kepemimpinan antara *H.Syamsari Kitta, S.Pt, MM* _(Bupati Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi-Selatan)_ dan *Recep Tayyip Erdogan* _(Presiden Turki)_ dengan judul _”Pemimpin Garang Yang Terpercaya”_, maka kali ini saya ingin lebih lugas mengurai karakter kepemimpinan *INDEPENDENSIF PERSONAL* dari ke dua tokoh tersebut.

Sebelum masuk ke ulasan kepemimpinan, saya ingin sedikit menyingkap persfektif saya mengenai sistem demokrasi yang menjadi objek dalam lingkaran kekuasaan. Ini sebagai pengantar kita dalam menelaah gerak kepemimpinan antara ke dua sosok pemimpin *Syamsari & Erdogan”.*

_Tahukah anda bagaimana rupa "sistem demokrasi" di Indonesia?_

Tentu kita akan lebih banyak memberikan defenisi dengan cara menganalisis lalu mengadopsi gambaran bentuk sistem demokrasi di negara-negara luar kemudian mencoba mencocokkan dengan tatanan demokrasi yang selama ini berjalan di negeri ini.

_Mengapa demikian?_

Karena tidak adanya fakultas pembelajaran bagaimana bentuk sistem demokrasi yang baku di Indonesia yang bisa dijadikan modul untuk dapat diterapkan dalam mengelola organisasi publik.

Selama ini kita sering mendengar istilah _”Demokrasi yang berlandaskan Pancasila”_, meski dalam perjalanannya kita masih mengalami kesulitan untuk mencapai titik tersebut.

Menurut hemat saya hal ini dikarenakan oleh berbagai sebab, di antaranya ; latar belakang, kultur, serta budaya masyarakat dan organisasi yang berbeda-beda di Indonesia.

Akibat dari hal tersebut, banyak pemimpin yang mengalami kesulitan dalam menjalankan roda organisasi pemerintahan karena tidak memiliki kemampuan mengimbangi *gejolak politik dan anomali atmosfir sosial* yang terus-menerus berbenturan dengan implementasi kebijakan.

Pertanyaan kemudian yang muncul adalah apakah _“sistem demokrasi”_ kurang cocok di terapkan di negara kita?

Bagi saya permasalahannya bukan terletak pada sistem demokrasi yang kita anut, Melainkan pada seberapa kuat pemimpin kita untuk mencapai titik *“Hikmat Kebijaksanaan”* sesuai dengan Sila ke 4 pada
_*Ideologi Pancasila*_. Karena esensi dari Demokrasi adalah *“Kedaulatan berada ditangan rakyat”.*

Dalam perjalanan panjang sejarah peradaban manusia memiliki prinsip dasar bahwa dalam setiap lingkungan masyarakat akan selalu ada sosok yang dianggap _“lebih dari yang lain”_ lalu dipercaya dan diangkat untuk mengatur satu dan yang lainnya *( _Primus Interpares_ ).*

Baca Juga  Warga ini Berharap, Desa Pa'lalakkang Kec. Galesong Segera Dilakukan Pemekaran

Lalu bagaimana perbandingan gaya kepemimpinan sosok *“Syamsari & Erdogan”?*

Di sini saya akan mulai membedah gaya kepemimpinan ke dua tokoh tersebut di awal masa pemerintahannya.

Mungkin sebagian kalangan akan menilai ulasan ini sebagai bentuk pembenaran, lelucon, atau sekedar manifestasi dari _"fanatisme"_ berlebihan yang terwujud dalam bentuk sebuah narasi sederhana.

Namun demikian, bagi saya menulis merupakan bentuk dari ekspressi jiwa dan nalar yang tertuang dalam bentuk teks.

Semua kembali dari tafsiran para pembaca, jadi mari kita mulai membuka *"cakrawalanya".*

Pada tahun 2016 silam, kepemimpinan Erdogan di Turki mulai dikoyak dan digembosi dari luar dan dalam. *Erdogan yang kala itu baru 2 tahun* memimpin Turki mulai ingin dilegitimasi dari dalam dengan cara _*upaya kudeta militer*_ yang menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum bahkan korban jiwa, meski upaya tersebut pada akhirnya gagal ditengah jalan.

Kejadian tersebut membuat Erdogan marah besar dan menyebutnya sebagai *“Noda hitam demokrasi di Turki”.*

Dikutip dari halaman https://www.bbc.com/Indonesia (13/08/2019) menyebutkan bahwa kejadian tersebut membuat Erdogan marah besar dan melakukan penangkapan serta pemecatan sekitar *45.000 orang* yang diduga terlibat dalam upaya kudeta yang gagal tersebut.

_Siapa dalang dari peristiwa itu?_

Orang yang dinyatakan dalang pada kejadian tersebut adalah *Fethullah Gulen* mantan sekutu Erdogan dan orang yang sangat berpengaruh pada negara Turki. *Gulen* mengasingkan diri dan menetap di Amerika sejak 1999.

Perburuan dan penangkapan terhadap pengikut Gullenpun mulai dilakukan oleh pemerintah Turki sejak Tahun 2016 hingga saat ini.

Gerakan pembersihan kelompok *pengikut Gulen* yang dicap sebagai teroris oleh pemerintah Turki itu, oleh sebagian negara barat sebagai model kepemimpinan yang *"Diktator"*.

Meski demikian Erdogan tak peduli, dengan gaya kepemimpinan independensi dia semata-mata hanya berjuang untuk tujuan kemajuan serta perbaikan negara Turki di masa depan.

Baca Juga  Inilah Daftar 72 Travel Resmi Penyelenggara Umrah yang Ditetapkan Kementerian Agama Sulsel

Bahkan di saat *Uni Eropa* Menolak Turki menjadi bagian dari keanggotaan, Erdogan bersikap *“Cuek”* dan seolah tak merasa rugi.

_Mengapa demikian?_ Karena ditangan *Sang Erdogan* Turki telah mampu menjadi negara yang kuat dan maju secara indpenden tanpa harus diintervensi serta diembargo oleh negara-negara maju lainnya, seperti ; Amerika, Cina, Rusia, dan Lain-lain.

_Bagaimana dengan *H.Syamsari Kitta* di Takalar ??_

Sejak awal kepemimpinannya sebagai Bupati Kabupaten Takalar, *H.Syamsari Kitta* ( _sapaan akrabnya_ ) mulai digoyah dan digembosi dengan cara yang sama dengan Erdogan pada saat mengawali masa kepemimpinannya di Turki.

Issu kegagalan pemerintahan SK-HD digulirkan sebagai wacana untuk *_“doktrinasi publik”_* di awal perjalanan kepemimpinannya.
Hal ini saya duga sebagai bentuk *Delegetimasi & Embargo* terhadap kekuasaan.

Targetnya sangat sederhana, yakni menciptakan Stigma *"Tidak Percaya"* & *"Kecurigaan*" Masyarakat terhadap pemimpinnya.

Meski letupan-letupan issu di Takalar belum memiliki dampak begitu luas seperti upaya kudeta yang gagal di Turki, namun demikian hal tersebut telah memberikan pengaruh buruk terhadap stabilitas sosial.

Stigma publik yang mulai mengalami kecurigaan ( _prejudice_ ) tentu akan membuat kepercayaan masyarakat terhadap *22 Program Unggulan (P22) SK-HD* yang merupakan Misi utama dari Visi Kabupaten Takalar *_“Unggul, Sejahtera, & Bermartabat”_* mengalami sedikit gangguan.

Usia pemerintahan yang masih sangat relative muda ini sejak awal mulai diganggu bahkan divonis gagal oleh sebagian kalangan, hanya dengan asumsi-asumsi liar yang tak berdalil dan sesumbar berasal luar eskalasi pemerintahan.

Maka dari itu bagi saya pribadi, belum ada alasan yang kuat mengatakan pemerintahan *SK-HD* ini gagal diusia yang masih sangat dini.

_"Bukankah mempercayai dan meyakini pemimpin merupakan sebuah keharusan?"_

Jadi biarkan semuanya berjalan sesuai dengan proses dan tahapan yang telah diatur oleh peraturan perundang-undangan, karena menjalankan roda pemerintahan yang baik dan bersih *( _Good Governance and Clean Government_ )* bukanlah sesuatu yang mudah, taruhannya adalah hukuman penjara jika salah dalam melangkah.

Baca Juga  Meriahkan HAB Kementerian Agama ke 73, Kemenag Sinjai Gelar Pertandingan Tenis Lapangan

Melalui tulisan ini saya hanya berniat memberikan sedikit motivasi bagi seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Takalar bahwa *kepemimpinan SK-HD* ini masih sangat dini untuk divonis bersalah, apa lagi dinyatakan gagal hanya karena realisasi 22 program itu belum maksimal.

Semuanya butuh proses dan waktu, yang terpenting dari semuanya adalah bagaimana kita meyakini serta mempercayai pemimpin dalam mengelola pemerintahan, karena pada pundak mereka ada konsekuensi hukum yang senantiasa mengikuti.

Analisis ini hanya sebuah cara pandang personal saya pribadi yang bertujuan untuk menciptakan *_“angin yang sejuk”_* di kabupaten Takalar sebagai *“Butta Panrannuangta” (Tanah Pengharapan Kita Bersama).*

Ceritra perbandingan antara sosok *Syamsari & Erdogan* ini hanyalah sebuah gambaran umum yang menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat itu adalah kepemimpinan yang bersifat *_independen_(tunggal)* tanpa ada *_intervensi_ (campur tangan)* dari pihak manapun yang bertujuan untuk *_melegitimasi (melemahkan) dan mengembargo (menyandera)_* kekuasaan hingga berakhir pada model kekuasaan yang *_Oligarkis_ (kelompok)* serta *_nepotisme_ (kekerabatan)*.

Hal tersebut tentunya akan mengganggu rasa _"keadilan dan persamaan"_ di masyarakat.

Yang terakhir adalah jika dalam kepemimpinan *“Erdogan”* ada sosok *“Gulen”* sebagai dalang dari kekacauan yang terjadi, maka siapa *“Gulen”* dibalik desas-desus _*"issu provokatif"*_ yang hendak mendelegitimasi (melemahkan) dan menembargo (menyandera) kepemimpinan Syamsari dengan wacana *_“kemustahilan realisasi 22 program yang dijanjikan?_”*

Bukankah tujuan utama dari *Gulen dan para partisannya* mengacaukan Turki adalah karena mereka beranggapan Erdogan berpotensi menjadi ancaman dari _*”status quo”*_ faham sekuler barat yang selama ini membuat negara Turki tidak berkembang dan terisolir selama bertahun-tahun.

Lalu apa maksud dan tujuan dari *”Gulener”* Takalar dan *kelompok separatisnya* mengumbar di masyarakat _"rasa kebencian dan permsuhan_" terhadap *pemerintahan SK-HD* selama ini?

Karena masih dalam suasana Idul Adha, maka saya secara pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H, Mohon maaf lahir & bathin”*🙏😁

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 74 Tahun. Jayalah Negeriku, Majulah Bangsaku.!* MERDEKA*💪🇮🇩

Takalar, 13 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here