Kepemimpinan Perempuan ala Bugis Makassar

93

SULSELBERITA.COM. Makassar – Jumat, 12 Mei 2023, Lembaga Studi Kebijakan Publik (LSKP) menggelar Ruang Publik Ke-19 secara daring dengan tema Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Sosial Budaya Bugis Makassar. Dihadiri tiga narasumber yang ahli di bidangnya yaitu Andi Ina Kartika (Ketua DPRD Sulsel), Dr. Ery Iswari, M.Hum (Dosen FIB UNHAS), dan Pratiwi Hamdana (Founder Tenoon). Acara ini dimoderatori oleh peneliti LSKP, Alfiana.

Perempuan dalam naskah kuno Bugis Makassar, tercatat pernah menjadi pemimpin dalam kerajaannya. Menurut Ery, beberapa kerajaan Bugis Makassar seperti di Barru, Bone, dan Gowa pernah ada rajanya seorang perempuan. Kajian literatur naskah kuno Ery selama di Leiden menemukan bahwa Raja Perempuan di Pancana, Barru, pernah memimpin selama 55 tahun. Ini sebuah capaian yang luar biasa untuk karir politik perempuan, tutur dosen senior di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin ini.

Advertisement

Andi Ina, dalam pembuka diskusi menceritakan pengalamannya sebagai politisi perempuan, jalannya sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Selatan tidaklah mudah. Walau menjadi seorang ibu rumah tangga tetapi juga tetap profesional sebagai wakil rakyat, ini yang saya jalankan secara bijaksana dalam keseharian sebagai perempuan Bugis Makassar. Perempuan harusnya sejak dulu sampai sekarang dapat dihandalkan baik dalam lingkup keluarga maupun pranata sosial, tutur Ina yang juga alumni Unhas.

Pratiwi Hamdana, memantik diskusi dengan memperkenalkan Tenoon. Usaha Tenoon ini telah menghidupkan para perempuan desa dan juga kelompok disabilitas, tutur Pratiwi. Perempuan mesti diberdayakan. Di Tenoon, kami memiliki visi untuk memberdayakan perempuan untuk peningkatan ekonomi dan kapasitas dirinya, tutur Pratiwi yang juga alumni Inggris.

Puluhan peserta hadir dalam serial diskusi publik edisi 19 ini. Kalangan akademisi, praktisi, mahasiswa, aktivis perempuan dan budayawan turut meramaikan sesi tanya jawab. Seluruh panelis sepakat, bahwa perempuan harus diberi ruang yang egaliter dan terbuka di semua simpul-simpul kehidupan saat ini dan nanti.