Petani Takalar Makin Menjerit, Selain Dilanda Banjir Pupuk Bersubsidi Langka dan Mahal

32

SULSELBERITA.COM. Takalar – Cuaca extrim beberapa minggu belakangan yang terjadi di Takalar, mengakibatkan banjir yang menggenangi areal pertanian warga.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi, yang tentunya membuat  Petani di Takalar khususnya di wilayah Kec.Polsel makin tak berdaya.

Kondisi yang sama terjadi di dusun Buakanga Desa Cakura, mereka kini cemas karena terjadinya kelangkaan pupuk, yang tentunya mereka akan terancam gagal panen.

Advertisement

Terkhusus untuk Kelangkaan pupuk, kondisi ini sudah terjadi beberapa bulan terakhir, kalaupun ada harganya melambung tinggi

Salah satu anggota kelompok Tani SIKAMASEANG IRWANSYAH, kepada awak media ini, mengungkapkan kekhawatirannya, dan menuntut agar pupuk subsidi tidak terjadi kelangkaan.

“Ini sangat menghawatirkan, kami meminta agar Dinas Pertanian turun tangan, karena ada dugaan permainan, sehingga pupuk bersubsidi terjadi kelangkaan, padahal sebelumnya dinas Pertanian Takalar memastikan jika kuota pupuk untuk wikayah Takalar 5 kali lipat dari tahun sebelumnya, tapi faktanya sekarang mana?? Pupuk justru menghilang disaat kami membutuhkan”. Ujar Irwansyah. Kamis, (24/12/2020)

Baca Juga  DPC HIPO Kab.Takalar Segera Realisasikan Bantuan 300 Ribu Perbulan untuk Warga Miskin

“Yang kami tidak habis pikir di Takalar, terkhusus di Dusun BUAKANGA Desa Cakura Kecamatan POL-SELpupuk seolah menghilang, padahal dilakukan pengawasan oleh Komisi Pengawasan Pupuk Pestisida (KPPP),” Ungkap Irwansyah lagi.

Jika ini fenomena alam mungkin semua masyarakat harus tabah menghadapinya. Tapi, ia mengendus adanya permainan dibalik kelangkaan pupuk bersubsidi ini.

“Kami menduga ada permainan di tingkat distributor. Mafia-mafia Ini yang harus ditangkap Polisi. Panggil distributor dan pihak terkait, kasihan petani di POL-SEL”. Keluh Irwansyah lagi

“Saya berharap Pemerintah Kabupaten Takalar dan pihak penegak hukum bergerak cepat sehingga petani bisa terselamatkan, tangkap pengusaha yang menumpuk dan menyimpan pupuk subsidi dalam skala besar yang menyalahi ketentuan”. Tutup Irwansyah.

Sejumlah petani yang dihubungi mengakui soal kelangkaan pupuk tersebut. “Kelangkaan pupuk selalu terjadi di setiap tahun, saat mau menanam dan masa memupuk. Itu hal biasa, tapi kelangkaan sekarang luar biasa, saya cari di tempat lain tidak ada,” keluh daeng Nompo seorang petani Padi asal Kecamatan polongbangken selatan kepada media ini.

Baca Juga  Cegah Penyebaran Virus Corona, Satuan Sabhara Polres Takalar Melaksanakan Patroli dan Sosialisasi Maklumat Kapolri

Kini, tanaman Padi milik Daeng Nompo yang berumur 50 hari belum diberi pupuk. Padahal, tanaman itu harusnya diberi pupuk pada umur 30 hari agar mendapatkan produksi optimal.

Ia mengungkapkan, apabila tanaman padi tidak diberi pupuk, maka yang terjadi gagal panen. Sementara umur tanaman padi bisa dipanen ketika menginjak usia antara 90 hari sampai 100 hari. “Saya mencari pupuk Distributor tapi dia tidak ada, ujarnya.

Ia minta, pemerintah segera turun tangan mengatasi kelangkaan pupuk agar produksi jagung dan padi musim ini bisa tumbuh normal dan tidak gagal panen.

Advertisement
BAGIKAN