Opini: Kuliah Daring Tidak Mencerdaskan

38

SULSELBERITA.COM. Mahasiswa sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri dari sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah Universitas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mahasiswa adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi. Seperti Akademi, Politeknik, Sekolah tinggi dan yang paling terkenal dengan kata Universitas. Tidak ada perbedaan mengenai tata cara atau proses belajar mengajar antara mahasiswa dan siswa.

Namun mahasiswa saat ini di hadapkan dengan sebuah persoalan proses belajar yang tidak bisa di lakukan dengan metode tatap langsung diakibatkan di awal tahun 2020, Indonesia mulai mendapat serangan Wabah Virus Corona yang berdampak pada Proses kehidupan warganya. Dalam menanggapinya, Pemerintah memberi kebijakan ” Work From Home” (WFH). Kebijakan ini menyebabkan perkuliahan yang dulunya tatap muka langsung menjadi melalu media. Penggunaan media komunikasi dan informasi seperti Handphone menjadi salah satu alatnya. Media belajar yang fortable dan mudah digunakan. Namun adanya aplikasi sekolah baru yang terasa asing menyebabkan banyak mahasiswa sulit menggunakannya.

Baca Juga  Nak ! Harapan orangtuamu satu “kelak ketika kau lulus lekas daftar CPNS

Menurut Hugiono dan Poerwantana “pengaruh merupakan dorongan atau bujukan dan bersifat membentuk atau merupakan suatu efek”. Adanya perubahan sistem perkuliahan menyebabkan terbentukan dampak positif dan negatif di kalangan mahasiswa.

Kedua dampak ini menitikberatkan pada sisi negatif. Proses belajar-mengajar yang dibatasi oleh media, akan menimbulkan masalah jika alat yang digunakan terganggu. Seperti jaringan lambat, kuota habis atau penyimpanan smarphone pengguna terbatas. Adapun keluhan yang sering tersirat dari mahasiswa, “Tugas Menumpuk”. Bapak atau Ibu dosen seperti memberikan tugas dua kali lipat dari biasanya. Hal ini tidak sebanding dengan dampak positifnya. Materi perkuliahan bisa saja dapat diulang kembali dilain waktu dengan cara menyimpan atau merekam materi. Namun kembali lagi pada masalah keterbatasan penyimpanan alat belajar.

Adanya perbedaan cara interpretasi tiap mahasiswa berbeda-beda berdampak pada tingkat pemahamannya yg tidak merata. Ada mahasiswa yang hanya memahami materi dengan cepat tanpa kendala apapun. Tapi tidak sedikit dari mereka yang harus terkendala dengan media untuk memahami sebuah materi yang diberikan. Penggunaan media tidak melulu memudahkan penggunanya. Dalam bidang komunikasi, bisa saja terjadi kesalahpahaman karena tidak adanya penjelasan langsung dari komunikator. Seperti ketika dosen menjelaskan mengenai materi mata kuliahnya melalui aplikasi tatap muka di smarphone. Sebagian mahasiswa terkesan terganggu menyimak karena terhalang media, serta kurangnya komunikasi timbal balik bisa menyebabkan tingkat pemahaman mahasiswa menurun.

Baca Juga  Opini: Vibrasi dan Covid-19; Hari Kebangkitan Nasional Melawan Imperialisme Gaya Baru

Penggunaan media dalam proses belajar juga dijelaskan dalam “Teori Dale” Dale’s Cone of Experience (Kerucut Pengalaman Dale). Menjelaskan bahwa hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung, kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal. Menurut Dale, semakin banyak indera yang terlibat maka tingkat pemahaman seseorang terhadap sesuatu hal akan semakin tinggi. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan bermakna mengenai informasi dan gagasan dalam pengalaman, karena melibatka indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba.

Mahasiswa akan semakin memahami materi yang diberikan oleh dosen jika tanpa perantara media atau langsung. Media seakan-akan membatasi ruang gerak dan komunikasi penggunanya. Mahasiswa seperti tidak menerima fungsi media di dunia pendidikan. Feed back komunikasi mahasiswa ke dosen kurang, masalah mengenai jaringan lambat yang sampai saat ini belum ada solusinya, ataupun pengeluaran isi kantong harus lebih dari biasanya untuk mengisi kuota internet. Masalah ini sering digunakan oleh sebagian besar mahasiswa ketika malas atau memang tidak dapat mengikuti perkuliahan tepat waktu.

Baca Juga  Belum Optimalnya Data Penerima Manfaat Jejaring Pengaman Sosial (Social Safety Net)

Akhirnya, semua masalah akibat proses perkuliahan di tengah Pandemi, berdampak pada tingkat pemahaman mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa tidak memahami materi perkuliahan selama hampir setahun ini. Mereka terpaksa mengerjakan tugas dengan bantuan google atau ilmu seadanya. Hal ini dipicu pada alasan sebagian dosen sibuk dan jarang membalas pesan dari mahasiswa. Jadi mahasiswa harus mandiri, mencari tau sendiri dan mengeluarkan uang lebih untuk mendapat ilmu.

 

Penulis : Dell, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Advertisement
BAGIKAN