Ketua Umum LSP3M Gempar Indonesia SulSel, Kecam RS Wahidin yang Diduga “Paksakan” Pasien Bayi Asal Takalar Positif Covid

4399

SULSELBERITA.COM. Makassar - Terkait berita yang diangkat media ini sebelumnya, yang menyebutkan seorang pasien bayi umur 3 bulan penderita tumor usus asal Kabupaten Takalar yang diduga "dipaksakan" oleh pihak RS Wahidin Makassar sebagai pasien positif Covid 19, di kecam keras oleh ketua umum LSP3M Gempar Indonesia SulSel. Minggu, (5/7/2020).

Amiruddin SH.Kr.Tinggi pun angkat bicara, menurutnya ada dugaan penyalahgunaan wewenang dokter rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar yang memvonis seorang bayi bernama Ghifari yang baru berumur 3 bulan 25 hari sebagai mengidap virus Corona pada hal menurut dokter di rumah sakit Awal Bros yang menangani anak tersebut mengatakan bahwa anak ini (Ghifari ) mengalami tumor usus ( buntu usus besarnya) sebelum dirujuk kerumah sakit Wahidin.

Advertisement

Dijelaskan oleh ketua Umum LSP3M Gempar Indonesia Sulawesi Selatan ini bahwa Saharuddin (35 tahun) ayah korban bersama istrinya yang bernama Suharni Syam (26 tahun) meminta kepada Ketua Umum LSP3M Gempar Indonesia Sulawesi Selatan agar dapat mendampingi melapor ke Polda atas kasus yang menimpa anaknya tersebut

Dijelaskan oleh Amiruddin bahwa pihak dokter rumah sakit Wahidin diduga tidak profesional dalam menangani pasien dan terkesan menebak nebak penyakit pasien, dengan enteng memvonis Ghifari sebagai terinfeksi virus Corona, mendengar penjelasan dari dokter Saharuddin ( 35 tahun) ayah korban dan ibu korban yang bernama Suharni Syam (26 tahun) hanya memilih pasrah merelakan anaknya dikubur di pekuburan Khusus penyakit Virus Corona di Macanda Gowa, Ghifari meninggal pada malam Sabtu tanggal 19 Juni 2020 dan dikubur subuh waktu itu.

Dijelaskan lagi oleh Amiruddin SH Kr.Tinggi Bahwa pada hari Kamis tanggal 2 Juli 2020 Saharuddin datang dirumah sakit Wahidin mengambil hasil SWAB anaknya ternyata Negatif Covid 19, oleh karena itu Saharuddin meminta kepada ketua Umum LSP3M Gempar Indonesia Sulawesi agar dapat mendampingi melaporkan kasus yang menimpa dirinya kepihak yang berwajib.

Dikatakan Amiruddin SH Kr.Tinggi bahwa banyak isu miring yang berkembang dimasyarakat terkait penanganan Pandemi Covid 19 Virus Corona, adalah keuntungan sehingga masyarakat takut berobat atau takut ravid test dan krisis kepercayaan terhadap dokter dan perawat dalam hal penanganan Pandemi Covid 19 Virus Corona dengan alasan belum ada hasil swab sudah divonis terjangkit Virus Corona.

Dan dijelaskan lagi oleh Kr.Tinggi, kalau Ghifari meninggal dunia karena terjangkit Positif Virus Corona, kenapa orang tua. Ghifari Saharuddin dan Suharni tidak diisolasi , kenapa dibiarkan saja pulang ke Cikoang , Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar???. apakah Virus Corona adalah penyakit yang cepat menular???.

Seharusnya pihak gugus depan Penanganan Covid 19 Virus Corona melakukan isolasi langsung kedua orang tua Ghifari, adalah menandakan dan kuat dugaan bahwa Penanganan Covid 19 Virus Corona menjadi ajang bisnis dirumah sakit Wahidin dan terkesan bukan mau memutuskan mata rantai penyebaran Pandemi Covid 19 Virus Corona.

Menurut Amiruddin kasus ini tidak boleh dibiarkan, harus dilaporkan kepada pihak yang berwenang ,agar pihak rumah sakit yang ada di Sulawesi Selatan dapat bekerja secara profesional dan jangan menebak nebak penyakit pasien, kasihan Pemerintah menyiapkan anggaran 700 triliun hanya untuk penanggulangan Covid 19 Virus Corona.

Ketua Umum LSP3M Gempar Indonesia Sulawesi Selatan meminta kepada petugas gugus depan Penanganan Covid 19 Virus Corona agar betul betul tidak membesar besarkan Covid 19 Virus Corona lagi kalau memang sudah redah. tutup Amiruddin.