Kisah Pilu Pasien Miskin di Takalar, Mayat Bayinya Sempat Tertahan di RS Wahidin Makassar Karena Terkendala Biaya 12 Juta

4968

SULSELBERITA.COM. Makassar - Warga miskin dilarang sakit, ungkapan tersebut mungkin juga ada benarnya, hal tersebut terbukti dialami oleh salah seorang warga miskin di Takalar yang bernama ibu Yuni.

Bagaimana tidak, ibu Yuni yang terkendala oleh BPJS sempat panik, karena anaknya yang bernama rahman (1 bulan) menghembuskan napas terakhirnya setelah sempat dirawat selama 3 hari di ruang PICU Rumah Sskit Wahidin Makassar, namun mayat bayinya tak bisa dia bawa pulang sebelum menyelesaikan biaya perawagan sebesar kurang lebih 12 juta rupiah.

Ibu Yuni pun panik, karena dirinya sama sekali tidak punya uang, namun ternyata tuhan maha tahu kesulitan hambanya,  ada juga orang yang baik hati mau meminjamkannya sebesar 5 juta Rupiah, ibu Yuni pun menghadap ke managemen untuk memohon agar mayat bayinya bisa dibawa pulang dengan membayar panjar sebesar Rp. 5 juta, dan berjanji akan menyelesaikannya besok (senin red), yang penting mayat bayinya bisa dia bawa pulang.



Kesedihan ibu Yuni semakin bertambah, karena tak memiliki uang, mayat bayinya tidak bisa diantar menggunakan Ambulans pulang kerumahnya di Lingkungan Bonto Rita Kelurahan Mannongkoki Kec.Polut Kab.Takalar, namun rupanya tuhan lagi lagi menolong hambanya yang dalam kesulitan, seorang warga yang melihat hal tersebut menawarkan mobilnya untuk dipakai mengantar pulang mayat bayinya tanpa meminta biaya, bahkan orang tersebut memberinya uang 1 juta untuk biaya penguburan bayinya.

Baca Juga  Diancam" Cabup Basli Asli, PERAK: Itu Tandanya Kami Bekerja dan Direkeng

"Anak saya jatuh dari ayunan, saya sempat bawa ke RS Padjonga Dg Ngalle Takalar, namun di rujuk ke RS Wahidin Makassar 3 hari yang lalu karena terjadi pendarahan diotak, namun belum sempat di lakukan operasi, anak saya sudah dipanggil oleh tuhan". Ungkap Yuni sambil menangis. Minggu, (5/1/2020).

Lanjut diungkapkan Yuni, "Saya sempat panik, karena ternyata saya diharuskan membayar biaya perawatan anak saya sebesar 12 juta lebih, saya orang miskin, saya sama sekali tidak punya uang, sementara BPJS anak saya sudah saya uruskan tapi belum aktif, kata pihak rumah sakit, saya tidak bisa membawa pulang mayat anak saya kalau saya belum melunasi biaya perawatan, tapi alhamdulillah, ada orang yang baik hati mau meminjamkan saya uang sebesar 5 juta, saya pun memohon kepada pihak rumah sakit agar mengijinkan mayat anak saya dibawa pulang dengan membayar panjar sebesar 5 juta, sayapun diberi keringanan, tetapi saya harus menandatangani surat persetujuan utang sebesar sisa 7 juta yang harus saya lunasi besok, tanpa pikir panjang sayapun langsung setuju yang penting mayat anak saya bisa saya bawa pulang". Ungkap Yuni sambil tersedu sedu.

Lebih jauh diungkapkan Yuni"Saat saya mau bawa pulang, saya kembali bingung, karena saya tidak punya uang membayar ambulans, tapi alhamdulillah ternyata tuhan maha tahu keshlitan hambanya, seorang yang baik hati menawarkan mobil pribadinya untuk membawa pulang mayat anak saya gmtanpa biaya, bahkan dia memberj saya uang 1 juta untuk biaya pemakaman anak saya". Ungkapnya lagi.

Baca Juga  Sebut Prabowo PKI di Facebook, Warga Minta Polisi Segera Tangkap Pemilik Akun Jaya Kusuma

"Saya sekarang sedikit lega, karena mayat anak saya sudah sampai di rumah, tapi yang saya pikirkan sisa utang saya yang 7 juta di RS Wahidin yang harus saya lunasi besok, saya sama sekali tidak punya uang, suami saya hanya pekerja serabutan, penghasilan tidak menentu". Tutup Yuni sedih.

Sementara itu, pihak RS Wahidin Makassar yang di Klarifikasi melalui sambungan telepon atas nama Ibu Rostina Limbong.SKM.MM, (Koordinator Piutang), dengan tegas membantah jika pihak RS Wahidin ada kebijakan menahan atau menyandera mayat pasien jika terkendala administrasi.
"Itu sama sekali tidak benar, kami pihak RS Wahidin tidak ada kebijakan seperti itu, jika ada oknum yang melakukannya, tolong sebutkan siapa namanya, biar besok saya panggil untuk klarifikasi, karena ini hari minggu saya tidak masuk kerja pak". Ujarnya dengan tegas. Minggu, (5/1/2020)

Lanjut di katakan Rostina, ".Bahkan kami selalu menganjurkan kepada pihak keluarga pasien agar membawa pulang dulu mayatnya untuk dimakamkan, urusan administrasinya nanti ada pihak keluarga yang datang untuk mengurus, jadi tidak boleh ada sepwrti itu, apalagi ini orang berduka, tidak ada afurannya sepwrri itu pak, jadi kalaupun ada persolan administrasi, itu tergantung dari komunikasi pihak keluarga atau yang mewakili, jadi sekali lagi saya tegaskan, itu sama sekali tidak benar, tidak akan ada seperti itu, belum pernah ada sejarahnya kami pihak RS menahan atau menyandera mayat hanya karena persolan administrasi". Tutup Rostina Limbong.

Baca Juga  Puluhan Ton Bantuan Bibit Jagung Di Bidang Perkebunan Takalar Di Sorot

Bantahan senada juga disampaikan oleh Ibu Dewi Kasubag Humas RS Wahidin Makassar, melaluj sambungan telpon, Ibu Dewi membantah jika pihaknya melakukan penahanan atau penyanderaan terhadap mayat yang bersangkutan, semua itu karena terjadi misskomunikasi.

"Jadi ini hanya misskomunikasu saja, harus difahami BPJS itu adalah Jaminan kesehatan, jadi jika sesari awal pasien terdaftar sebagai pasien umum, maka konsekwensinya adalah berdampak pada pembayaran, seharusnya keluarga pasien melaporkan ke pihak duti manager untuk diselesaikan jika ada hal yang sepwrri ini". Jelas Dewi.

Lanjut dijelaskan, "Jadi unit unit kerja kami yang ada dibawah, itu bekweja dengan melihat sistem, kalau dalam sistem terbaca pasien umum, maka harus melalui sistem umum, yakni melakukan pembayaran sesuai dengan jumlah tagihan, jadi sekali lagi kami tegaskan, kami tidak pernah melakukan penahanana atau penyanderaan pasien, itu sama sekali tidak benar, ini murni misskomunikasi, silahkan keluarga pasien datang ini hari atau besok ke rumah sakit untuk melaporkan hal ini, supaya bisa diselesaikan permasalahnnya". Tutup Dewi.

Advertisement
BAGIKAN