Diduga Diperdagangkan, Mangrove Jenis Santigi di Tanakeke Terancam Punah

SULSELBERITA.COM. Takalar – Salah.satu kekayaan alam kepulauan Tanakeke yang selama ini menjadi kebanggaan Kab.Takalar adalah hutan Mangrove, meskipun luasannya hanya tersisa beberapa ratus hektar lagi, namun setiap saat mendapat perhatian serius, baik dari Pemda Takalar, maupun membaca lembags pemerhati lingkungan dari luar negeri.

Telah tercatat, banyak lembaga lembags internadional yang memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan hutan mangrove di Tanakeke, tak sedikit dana yang mereka habiskan hanya untuk melakukan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat lokal melalui program program bantuan.

Bacaan Lainnya

Hari Pahlawan Nasional Tahun 2025

Hari Pahlawan Nasional Tahun 2025

Tercatat lembaga internasional yang pernah berprogram di Pukau Tanakeke terkait denfan keberadaan hutan mangrove adalah sebagai berikut, GEEF,  UNDF, JICA CEF, JICA CD PROJECT, ACCESS AUSAID, YAYASAN KEMALA, OXFAM dan beberapa lembaga lainnya, yang semuanya berfokus pada penyelamatan hutan mangrove di pulau Tanakeke.

Namun sebuah kabar mengejutkan yang membuat para pemerhati lingkungan tersentak hari ini, bagaimana tidak, hutan mangrove yang susah payah di pelihara dan dijaga, tiba tiba saja di rusak oleh oknum oknum yang tidak bertanggung jawab, kabarnya salah satu jenis asosiasi mangrove (Santigi) yangvmemiliki bahasa latin pemvis tersebut, di perdagangkan, dengan cara diambil bersama akarnya, yang kemudian diangkut kedaratan menggunakan jolloro, sementara pihak pembeli sudah menunggu dengan beberapa mobil open cup di dermaga Takalar.

“Satu hari setelah pemilu (kamis) saya dapat info, bahwa di Desa Balangdatu pesisir ada 2 jolloro yang sudah penuh dengan pohon Santigi yang diambil dengan akarx (cabut)..dan saya langsung telpon kadus Bangkotinggia dan ternyata benar adanya”. Ungkap Alimuddin Unjung salah seorang Tokoh pemuda Tanakeke. Selasa, (23/4/2019).

Lanjut di ungkapkan Alimuddin, “Tadi waktu saya mau ke pulau, saya melihat didepan kantor camat ada dua mobil yang ditahan polisi, dan isinya semua pohon santigi, saya hanya berharap apapun alasannya ini tidak bisa dibiarkan, karena ini sudah termasuk penrusakan lingkungan yang bisa berakibat patal bagi kelangsungan hidup kami dipulau”.Ungkap Dg Ngunjung lagi sapaan akrabnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Awaluddin Dg Nompo, salah seorang tokoh pemuda Tanakeke lainnya, yang juga salah seorang pemerhati lingkungan.

“Ini tidak Boleh dilakukan pembiaran, karena ini salah satu tindakan yang tidak bisa di tolerir, Santigi adalah salah satu jenis asosiasi mangrove yang sangat langka, yang harus dilindungi agar tidak punah”. Ungkapnya.

Pos terkait