LDK Karang Taruna Patonro: Menjawab Tantangan Krisis Regenerasi dan SDM Pemuda di Desa Kalukubodo

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW - Bupati dan Wakil Bupati Takalar - Sulselberita

HUT ke-81 RI Bupati dan Wakil Bupati Takalar

HUT ke-81 RI Ketua DPRD Takalar

SULSELBERITA.COM. Takalar – Karang Taruna Patonro Desa Kalukubodo sukses melaksanakan *Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pada bSabtu–Ahad, 12–13 September 2026, bertempat di Kantor Desa Kalukubodo. Kegiatan yang mengusung tema “Melahirkan Generasi Pemuda kreatif, inovatif Menuju, Kalukubodo Berdampak”* tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas, karakter, dan kesadaran kepemimpinan generasi muda di tingkat desa.

Kegiatan ini tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan pembinaan organisasi, tetapi juga sebagai langkah awal untuk menjawab persoalan regenerasi kepemimpinan dan penguatan sumber daya manusia (SDM) pemuda di Desa Kalukubodo.

Bacaan Lainnya

HUT ke-81 RI ody Riyan Saputra - Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Takalar

dr. Ruslan Ramli, M. Adm. Kes, HUT Ke-81 RI

Bansuhari Said - Camat Pattallassang Kabupaten Takalar

HUT ke-81 RI Ayatullah Rawatib - Plt. Camat Polongbangkeng Selatan

Firmansyah Habsi - Lurah Pappa Kecamatan Pattallassang - Takalar

dr. irmayani, HUT Ke-81 RI

Himbaun Pasang Bendera Merah Putih HUT ke-81 RI

LDK menjadi penting karena pembangunan desa tidak semata-mata ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas manusia yang akan merancang, mengawal, dan melanjutkan pembangunan tersebut.

Dalam konteks ini, pemuda memiliki posisi strategis sebagai kelompok sosial yang memiliki energi, kreativitas, serta kapasitas untuk menjadi aktor perubahan di tengah masyarakat.

Ketua Umum Karang Taruna Patonro, **Abdullah**, menilai bahwa penguatan kapasitas pemuda perlu ditempatkan sebagai agenda jangka panjang, bukan sekadar kegiatan temporer.

“Desa Kalukubodo hari ini menghadapi tantangan dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya dalam hal regenerasi dan kapasitas kepemudaan. Karena itu, langkah yang perlu dilakukan bukan hanya mengkritik keadaan, tetapi membangun ruang pembelajaran dan kaderisasi. LDK ini merupakan salah satu langkah awal untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki kapasitas, integritas, dan keberanian untuk mengambil peran dalam pembangunan Desa Kalukubodo,” tegas Abdullah.

Menurutnya, persoalan kepemudaan di desa tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghadirkan kegiatan seremonial. Diperlukan proses yang berkelanjutan melalui pendidikan organisasi, penguatan kapasitas, pembentukan karakter, serta keterlibatan langsung pemuda dalam menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat.

“Kalau kita ingin berbicara tentang Kalukubodo yang berdampak, maka pemudanya harus terlebih dahulu memiliki kapasitas untuk memberi dampak. Regenerasi tidak boleh hanya menjadi slogan. Harus ada proses kaderisasi yang terukur, ruang belajar yang terbuka, serta keberanian untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda mengambil peran,” lanjutnya.

Pemerintah Desa Dorong Penguatan Peran Pemuda

Upaya tersebut mendapat respons positif dari Pemerintah Desa Kalukubodo. Kepala Desa Kalukubodo, **Abdul Gaffar, S.Sos.**, menyatakan dukungan pemerintah desa terhadap berbagai kegiatan positif yang digagas oleh Karang Taruna Patonro.

“Kami dari pemerintah desa mendukung penuh dan mensupport segala kegiatan yang dilaksanakan oleh Karang Taruna. Kami siap memberikan fasilitas dan kapasitas untuk perubahan, khususnya bagi generasi masa depan bangsa,” ujar Abdul Gaffar.

Dukungan pemerintah desa tersebut dinilai penting karena pembangunan kepemudaan membutuhkan kolaborasi antara organisasi pemuda, pemerintah desa, masyarakat, serta berbagai unsur lainnya. Karang Taruna tidak dapat bekerja sendiri apabila agenda yang dibangun adalah menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Dari Kegiatan Seremonial Menuju Gerakan Berkelanjutan

LDK Karang Taruna Patonro yang berlangsung selama **dua hari, Sabtu–Ahad, 12–13 September 2026, di Kantor Desa Kalukubodo**, diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata di tengah masyarakat.

Kepemimpinan pada akhirnya tidak cukup diukur dari kemampuan berbicara di depan publik atau memimpin sebuah organisasi, tetapi juga dari kemampuan membaca persoalan, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, membangun kolaborasi, serta menghadirkan solusi yang dapat dirasakan masyarakat.

Karena itu, *“Dari Pemuda Menuju Kalukubodo Berdampak”* bukan hanya tema kegiatan, melainkan sebuah gagasan bahwa perubahan desa harus dibangun melalui proses kaderisasi manusia yang memiliki kapasitas dan kepedulian sosial.

Karang Taruna Patonro menempatkan LDK sebagai titik awal dari proses tersebut. Setelah pelatihan, tantangan sesungguhnya justru dimulai: bagaimana para kader muda mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan, gagasan menjadi program, dan semangat kepemudaan menjadi kontribusi nyata bagi Desa Kalukubodo.

Dengan demikian, keberhasilan LDK tidak semestinya hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari sejauh mana kader yang lahir mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial, organisasi, dan pembangunan desa.

**Pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton pembangunan. Mereka harus dipersiapkan untuk menjadi bagian dari proses, pengawal perubahan, sekaligus calon pemimpin masa depan Desa Kalukubodo.**

Pos terkait