Kasihan, Sudah 13 Hari Korban Laka Laut Asal Selayar Terkatung Katung di Pulau Wetar

91

SULSELBERITA.COM. Selayar - Perjuangan panjang harus dilalui warga Dusun Latokdok Timur, Desa Kalao Toa, Kecamatan Pasilambena, Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan, Musliadi (39 tahun) bersama puteranya, Aditiya (13 tahun) korban laka laut di perairan Pulau Wetar, Desa Ilputih, Kecamatan Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku yang hancur kapalnya, usai diterjang badai gelombang laut pada hari, Jum'at, (8/12) pekan lalu.

Kapal Laut Motor (KLM) Irsal, hancur berkeping keping dan terhempas hingga ke bibir pantai, saat korban akan bertolak kembali menuju ke Kecamatan Pasilambena mengangkut kerbau dari Pulau Wetar.

Advertisement

Saat akan dioperasikan, mesin kapal, tiba tiba saja mengalami trouble dan mendadak dihantam badai gelombang yang datang bersamaan dengan angin kencang, hingga menyebabkan kapal terbalik dan terlempar sampai ke bibir pantai.

Mesin diselamatkan dan dievakuasi ke darat, setelah sebelumnya, korban berhasil menyelamatkan diri dari maut yang nyaris merenggut nyawa, anak bapak itu.

Usai dibongkar, mesin langsung dievakuasi dan diselamatkan menuju rumah kebun milik Udin, warga asal Kalao Toa yang telah tinggal bermukim di sekitar Pulau Wetar.

Dua unit mesin kapal berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke darat, dengan bantuan kerjasama warga lokal setempat. Salah satu diantaranya, diketahui bernama Andy Miswan.

Upah dan jasa warga yang membantu proses evakuasi serta penyelamatan mesin, diselesaikan dengan menggunakan sisa sisa uang milik korban.

Namun naas, karena sisa bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang berhasil dievakuasi belakangan, habis dijarah dari lokasi penyimpanannya.

Tantangan yang dialami korban tak berhenti sampai disitu, karena untuk bisa berkomunikasi dengan pihak keluarga dan ataupun sekedar meminta bantuan pertolongan, korban harus rela berjalan kaki, bahkan sampai berlayar menyeberang ke Pulau Masapun (Mahuan) desa tetangga tkp.

Korban juga telah menemui dan melaporkan musibah yang menimpanya kepada pihak Kepala Desa Ilputih.

Akan tetapi, belum lagi sempat menindaklanjuti laporan korban, kepala desa dikabakan berangkat menuju Kupang.

Sementara untuk menyeberang dan sampai ke ibukota kecamatan, dibutuhkan sedikitnya enam drum stock bahan bakar minyak jenis solar agar bisa berkoordinasi serta melaporkan diri ke pemerintah.

Korban juga mengaku telah berusaha menemui Kepala Desa Masapun (Mahuan) Kamis, (21/12) di rumah kediamannya. Tetapi, kepala desa dikabarkan lagi lagi sedang tidak berada di tempat.

Langkah koordinasi terus dilakukan dan diupayakan korban dengan mendasari arahan serta petunjuk aparat Pemerintah Kabupaten Barat Daya, via pesan singkat whatsapp yang meminta korban berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat.

"Bapak diharapkan untuk berkoordinasi dengan warga bapak, agar melapor ke kepala desa dan camat setempat, agar selanjutnya dapat dibuatkan surat laporan resmi ke pihak terkait di kabupaten agar dapat ditindak lanjuti..."

Permintaan tersebut telah dilanjutkan Posko Markas Rescue Team Kabupaten Kepulauan Selayar yang meminta korban untuk sedapat mungkin bisa berkoordinasi dengan aparat Pemerintah Desa Masapun (Mahuan) dan atau Pemerintah Desa Ilputih.

Posko Markas Rescue Team Kabupaten Kepulauan Selayar juga telah berkoordinasi dengan pihak jajaran kantor Cabang PT. Pelni di Maluku yang siap menfasilitasi upaya pemulangan korban via KM. Wilis yang rencananya akan diberangkatkan terakhir dari Pelabuhan Kalabahi menuju Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Rabu, (27/12) pekan depan.

Akan tetapi, korban terbentur pada kendala keterbatasan finansial untuk membayar biaya carteran kapal dan atau spead boad dari tempatnya berada sekarang menuju Pelabuhan Kalabahi.

Sampai hari ketiga belas pasca musibah laka laut, korban mengaku belum didatangi dan sama sekali belum pernah tersentuh bantuan dari pemerintah setempat.

Pernyataan tersebut dilontarkannya kepada wartawan via sambungan saluran telefon selular, Kamis, (21/12). (Fadly Syarif)