Opini: Self Of Control (Puasa) Dalam People Power

248

Oleh: Ahmad Basyir. (Ketua Sarekat Mahasiswa Muslimin Indonesia Cabang Takalar).

SULSELBERITA.COM  - Janganlah dulu mengurus soal surga dan neraka, pahala dan dosa, jihad lalu syahid sebab itu wilayah Tuhan sebagai pemilik otoritas yang punya ukuran. Apakah kita ditempatkan sesuai dengan ridhonya! Cuma semua tempat yang disediakanNya, sudah tercatat dalam Quran. Secara fundamental, kesesuaian tempat yang kita peroleh di akhirat itu tergantung dari tindak tanduk selama di dunia. Karena Tuhan punya malaikat yang ditugaskan mencatatnya.

Sebagia hamba, Tuhan berharap kepada kita untuk beramal sholeh di dunia, waa amalussholih. Dan sebagai Muslim, tumpuan pekerjaan hidup kita di dunia ini, jalan yang di inginkan dari sumber yang turunkan Tuhan kepada RosulNya, Quran dan Sunnah, yang isinya membawa rahmat (kasih sayang), Rahmatallilalamiin.

Advertisement

Berbuat dengan sebaik mungkin dan berucaplah bil hikmah, itu sesungguhnya menjadi tanggung jawab dan amanah kita sebagai muslim, sebagai rule model kasih sayang dan ketundukan kepada Tuhan. Secara terminologi kata Muslim artinya 'orang yang Tunduk'. Kata Islam sendiri, yang merupakan akar kata Muslim, berarti 'ketundukan kepada Tuhan dan kehendakNya'.

Baca Juga  Aliansi Selamatkan Pesisir : Usir Perusahaan Perusak Lingkungan, Selamatkan Nelayan Makassar dan Galesong Raya

Untuknya itu, di bulan suci Ramadhan. Islam punya seruan spirit spritual untuk selalu tunduk kepadaNya dengan mengendalikan dirinya, Self Of Control, puasa. Puasa adalah bagian ketundukan dan mengajarkan cara bertindak kasih sayang yang baik, '... Puasa itu perisai, dan jika kalian sedang berpuasa jangan lah kalian mencaci maki dan bermusuhan. Jika seseorang memaki dan mengajak perang, maka katakanlah bahwa aku sedang Puasa...' (H. R. Bukhari dan Muslim).

Bila puasa yang bermaktum pada kekuatan menahan diri atau sel of control, tentu ia akan menjadi perisai dan penghalang kita untuk tidak berbuat kejahatan, wayanhauna anil munkar. lalu kemudian spirit spritual puasa akan mengajak untuk mengerjakan kebaikan, ta'muruna bil ma'ruf, karena merupakan eksistensi diri didunia. Namun puasa kali ini berbeda jauh dari spirit spritual yang diajarkan Islam. Ia sudah tak menjadi perisai, tapi menjadi ruang aktualisasi diri untuk melakukan sebuah perbuatan jahat seperti kejadian di kegiatan People Power, didepan kantor Bawaslu pada 21-22 Mei 2019, yang menelan banyak korban akibat kerusuhan antara demonstran dan aparat.

Baca Juga  Usai Aksi di DPP Partai Golkar, FUIN Akan Aksi di Depan Istana Negara Minta Jokowi Tegur Airlangga Hartarto

Tentu kejadian ini bukan yang pertama kali bagi negara Indonesia. Dulu dimasa Soekarno, Soeharto, Abdul Rahman Wahid atau lebih dikenal Gus Dur, juga pernah terjadi hal demikian dan hari ini terulang kembali, dibawah kepemimpinan Joko Widodo. Menanggapi hal kejadian tersebut, saya sebagai penulis hanya berharap bahwa tetap jaga keutuhan negara kita. Lalu kembali merawat dan merajut persatuan sebagai mana yang tertuang di dokumen politik Muhammad di pasal pertama bahwa, "Sesungguhnya mereka satu Umat, lain dari (komunitas) dari yang lain.", (Piagam Madinah). Dangan hal ini pemerintah dan rakyat harus saling bahu membahu dalam menjaga stabilitas negara kita, sebab ada problem subtansi negara kita yang harus di kerjakan.

Maka pemerintah dan rakyat yang mengaku Muslim, tentu ia harus menghindari dirinya dari justifikasi Tuhan yang begitu tegas karena lupa tujuan, tanggung jawab dan amarahnya. Sebagaimana dalam Surah Al Ma'uun, Aro aitallazii yu kazzibu biddin?. Karena kita sebagai seorang Muslim yang cinta perdamaian maka kita tak mau dianggap sebagai orang yang berdusta. Lalu melupakan tanggung jawab dan amanah, sehingga lupa mengurus anak yatim, lupa orang miskin, lalai dalam urusan ibadahnya. Apalagi kita sebagai pemimpin negara Khalifah. Sehingga alangkah indahnya di bulan puasa ini problem subtansi ini diselesaikan.

Baca Juga  Lampu Jalan Setahun Lebih Mati di Bissampole, PLN Cuek Saja

Dengan demikian perhatian kita adalah apa yang terjadi dikelilingi kita, soal kosmologi (alam), humanity (manusia), "Inna fii Kholkissamawati wal ardi wakhtilafillaili wannahar laa ayatul liulil albab", apalagi kita ini Ulil Albab memiliki otoritas pikiran (akal), ia diajak untuk berpikir untuk menyelesaikan problem keduniaan kita sehingga kelak memperoleh kebahagian akhirat.

Advertisement
BAGIKAN