Setahun Lebih di Tetapkan Sebagai Tersangka, Pelaku Kekerasan Terhadap Anak di Bawah Umur Tetap “Bebas Berkeliaran”

609

SULSELBERITA.COM. Jeneponto - Kasus Kekerasan terhadap anak di bawah umur yang terjadi sekitar Bulan September  tahun 2017 Lalu di Tabinjai Desa Lentu Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto,  yang di tangani oleh pihak penegak Hukum Polres Jeneponto dan telah menetapkanTersangaka Muh Arsyad (50), kini kasusnya telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jeneponto Awal tahun 2018 lalu, menuai sorotan dari pihak keluarga korban.

Kasus yang sudah bergulir selama kurang lebih dua tahun tersebut,  sampai saat ini belum ada upaya penahanan dari pihak penegak hukam terhadap tersangka, hal ini selain menuai sorotan pihak keluarga, juga mendapat sorotan dari LSM dan masyarakat.

Aktivis Lembaga Pemberantasan Korupsi dan Penegakan Keadilan (LPK2), Divisi Pemberdayaan, perlindungan Perempuan dan Anak, IMA mengatakan, " salah satu agenda pembangunan nasional pemerintah Kabinet Kerja tahun 2015-2019 adalah memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermatabat dan terpercaya dengan sub agenda melindungi anak, perempuan dan kelompok marjinal. oleh karna itu pihak penegak hukum baik Polres maupun Kejari Jeneponto seharusnya melakukan penahanan terhadap pelaku, jika sudah memenuhi unsur dua alat bukti, karna jika pelaku masih berkeliaran maka mudah melakukan upaya upaya pelemahan hukum, dan bisa saja menjadi contoh masyarakat lain untuk melakukan kejahatan,  karna pihak penegakan hukum tidak ada tindakan yang bisa membuat efek jerah bagi pelaku". Ujar Ima.

Baca Juga  Di Duga Lontarkan Ujaran Kebencian Pada Kades Pangnyangkalan Di FB, Nitizen Ini Segera DiPolisikan

"Padahal jelas pasal tentang penganiayaan anak ini diatur khusus dalam Pasal 76 C UU 35/2014 yang berbunyi: Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak. Dan sanksi bagi orang yang melakukan pelanggaran (pelaku kekerasan/peganiayaan) ditentukan dalam Pasal 80 UU 35/2014:
(1)  Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).(2)  Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (3)  Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). (4)  Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat apabila yang melakukan penganiayaan tersebut Orang Tuanya.

Baca Juga  Trauma TNKB 2013 Kembali Terjadi, Bukti Nyata Tidak Beresnya Polri Dalam Menyajikan Pelayanan di Samsat Secara Profesional

Pihak Penegak Hukum membenarkan bahwa Muh Arsyad belum dilakukan penahanan baik dari penyidik maupun dari Jaksa, karna berdasarkan pertimbangan hasil Penyelidikan, Tetapi setelah ada putusan pengadilan Baru di eksekusi Tersangkah Pelaku Kekerasan Anak.

Kajari Jeneponto Ramdiyagus Saat di konfirmasi lewat selluler mengatakan " Selama ini Pihak Penyidik Belum Melakukan Penahanan karna yang diterapkan Pasal 80 ,Sehingga Menunggu putusan Pengadilan tetapi jika pengadilan memutuskan maka kami akan melakukan eksekusi Penahanan, karna Jaksa sudah memberikan tuntutan pada awal oktober 2018 lalu kepada hakimnya".

Rilis

 

Advertisement
BAGIKAN