SULSELBERITA.COM. MAKASSAR, 26 MEI 2026 – Solidaritas kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali diuji. Aksi demonstrasi damai yang digelar oleh Aliansi Masyarakat Peduli Hukum di depan Lapas Narkotika Kelas IIA Bollangi, Kabupaten Gowa, pada Senin (25/5/2026) kemarin, menyisakan luka mendalam bagi dunia pergerakan mahasiswa.
Salah satu kader terbaik HMI Komisariat Hukum 45 Bosowa Cabang Makassar, yang saat itu tengah berjuang menyuarakan aspirasi, dilaporkan diamankan secara paksa ke dalam area lapas. Ironisnya, di dalam lingkungan institusi penegak hukum tersebut, korban diduga kuat mengalami pengeroyokan dan tindakan represif oleh oknum pegawai lapas hingga mengalami luka babak belur.
Merespons tindakan brutal tersebut, Ketua Umum HMI Komisariat Hukum 45 Bosowa, Muh Fahmi, angkat bicara dan mengutuk keras tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh pihak pengamanan Lapas Bollangi.
“Kami mengecam keras tindakan premanisme dan kebrutalan yang dilakukan oleh oknum pegawai Lapas Bollangi terhadap kader kami. Mereka yang seharusnya menjadi pengayom dan penegak hukum, justru mempertontonkan aksi kekerasan yang sangat keji di dalam institusi negara,” tegas Muh Fahmi dalam keterangan resminya, Selasa (26/5/2026).
Muh Fahmi menilai, tindakan memasukkan demonstran ke dalam lapas lalu melakukan pengeroyokan secara bersama-sama adalah pelanggaran HAM berat dan mencederai nilai-nilai demokrasi.
Menyikapi insiden berdarah ini, Muh Fahmi menegaskan bahwa HMI Komisariat Hukum 45 Bosowa tidak akan tinggal diam dan mengeluarkan pernyataan sikap tegas:
• Menuntut Pertanggungjawaban Hukum: Meminta aparat penegak hukum (Kepolisian) untuk segera menangkap dan memproses pidana seluruh oknum pegawai Lapas Bollangi yang terlibat dalam aksi pengeroyokan tersebut.
• Copot Kepala Lapas Bollangi: Meminta Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk segera mencopot Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Bollangi karena dinilai gagal membina bawahan dan bertanggung jawab penuh atas insiden kelam ini.
Muh Fahmi juga menginstruksikan kepada seluruh kader dan lembaga bantuan hukum untuk merapatkan barisan guna mengawal kasus ini hingga tuntas.
”Kami pastikan kasus ini tidak akan menguap begitu saja. Darah kader kami yang tertumpah harus dibayar dengan keadilan hukum yang seadil-adilnya. Jika tidak ada tindakan tegas dari instansi terkait, kami akan mengonsolidasikan massa yang lebih besar,” tutup Muh Fahmi dengan nada optimis dan penuh penegasan.



