Aktivis Ini Nilai Kepindahan SYL Ke Nasdem, Sebagai Ciri Oligarki Politik Dinasti

556

SULSELBERITA.COM. Makassar - Munculnya pemberitaan terkait kepindahan Pak Sayhrul Yasin Limpo ke partai Nasdem sempat viral di beberapa media di makassar, Gubernur Sulsel 2 Periode ini menyatakan diri Meninggalkan Partai lambang Beringin dan berlabuh ke partai Nasdem.

Marak ucapan _"Selamat datang Pak SYL mari kita berlayar dan berlabuh ke pulau harapan"_ ungkapan kader nasdem di salah satu media Sosial.

Namun  menyikapi hal tersebut, salah seorang mantan aktivis HMI Marlin, menanggapinya berbeda, hal tersebut berdasarkan rilis yang dikimkan ke media, "Meski menjadi perbincangan di publik, masyarakat akan sedikit sulit untuk memahami alasan alasan fundamental Hijrahnya komandan ke Partai Nasdem, hemat saya masyarakat melihat Pak Syahrul itu adalah tokoh politik Sulsel yang telah lama malang melintang dalam dinamika politik lokal Sulawesi selatan, apa yang publik akan pahami boleh jadi sesuai dengan apa yang diproyeksikan tentang figure Pak Syahrul selama ini". Rabu, (21/3/2018).

Baca Juga  Doa Dan Penghantar Tugas Insan Pers Kab. Mandailing Natal Untuk Akbp Irsan Sinuhaji, S.I.K, M.H

Lanjut dikatakan "Proyeksi tentang Pak Syahrul dengan karakter petarung, loyal dan setia terhadap partai, itulah postur yang diproyeksian tentang beliau selama ini melalui banyak media. Kepindahan ini memantik tanya oleh publik oleh karena boleh jadi apa yang diproyeksikan itu tidak linear dengan kenyataan". Ujar Marlin.

Pendiri Generasi 145 Sulawesi selatan ini, menegaskan lagi "Publik pada opsi yang sama akan mengatakan bahwa perilaku politisi yang seperti ini sudah biasa _Lain kata lain perbuatan_ terkait kepindahan SYL ke Nasdem mesti dimaknai lebih kritis dan tidak terjebak oleh proyeksi dan pencitraan lewat media terkait tokoh politik tertentu termasuk Pak SYL".

"Secara politik bagi saya, kepindahan SYL ke Nasdem tidak menutup kemungkinan sebagai upaya terukur oligarki dinasti, apalagi ciri otentik dari praktek Oligarki Dinasti politik secara umum adalah takut kehilangan Power Politik _(Post-power Syndrome / Penyakit takut kehilangan kekuasaan atau kemapanan setelah memasuki fase purna tugas),
Kedua Oligarki Dinasti Politik sebagai penyakit turunan dari prakatek Desentralisasi yang premature, harus mampu beradaptasi dengan dealegtika perubahan perubahan politik yang begitu cepat dan dinamis, yang terjadi di tingkat nasional hingga ke tingkat daerah, belum lagi Pak Syahrul tak lama lagi sudah purna tugas selaku Gubernur dengan meninggalkan banyak tanya oleh publik, beberapa Proyek Besar semisal Reklamasi (CPI) yang sudah terlapor di KPK menjadi ancaman Politik hukum yang mesti dihadapinya".

Baca Juga  Ormas SMP Apresiasi Pembentukan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Lebih jauh dipaparkan "Kepindahan ini bisa juga ditafsirkan sebagai upaya dan langkah politik untuk memperpanjang nafas dan umur oligarki dinasti politik Yasin Limpo di Sulsel, mengingat adik kandung beliau maju bertarung sebagai calon Gubernur Sulawesi selatan periode 2018-2023, mantan bupati kabupaten gowa dua periode ini (Ichsan Yasin Limpo) maju sebagai calon gubernur berpasangan dengan andi muzakkar".

"Perlu diketahui rilis lembaga Indo Survey strategy ISS 20,1 persen yang pernah mendengar ada 63,9 persen memahami makna politik dinasti dan 77.7 persen publik sulsel tidak menginginkan Praktek Oligarki Politik Dinasti terulang" tutup Marlin.

Advertisement
BAGIKAN