SULSELBERITA.COM – Perkembangan teknologi membuat informasi berseluncur secara mudah bagi penggunanya bukan hanya dikalangan muda namun sampai ke kalangan tua bisa mengaksesnya baik melalui TV, radio, majalah dan masih banyak lagi.
Hal ini tentunya mengakses informasi sangat muda dan cepat dari seluruh penjuru dunia media layaknya remaja yang sedang dimabuk cinta memiliki dua sisi yaitu sisi negatif dan sisi positif maka dari itu penting untuk kita semua menggunakan media selayaknya bukan tak bermoral dan tak memiliki pikiran kritis contoh kasus hoax kemarin di tengah-tengah pandemi covid-19 masih ada saja tangan-tangan usil yang menyebarkan berita tentang penangkal wabah covid-19 dengan telur dengan memakannya maka kita terhindar dari wabah.
Berita ini yang sempat mengguncang masyarakat sampai kaum yang terdidik tentunya pengaruh hoax ini dikarenakan kita tidak pernah sadar bahwa pandemi covid-19 ini hadir karena peringatan dari tuhan (bumi sedang menyucikan diri dari kotoran). Seperti firman Allah: Tuhan Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS:Al-Mu’minuun | Ayat: 60). Dari ayat di atas kita bisa menyimpulkan bahwa yang mesti ditakuti adalah pencipta seluruh semesta ini bukan berita yang tak memiliki faedah dan realitas otentik.
Tidakkah kita sadari bersama bahwa seharusnya kita semua mampu mengolah informasi yang masuk dan mampu menyeimbangkan terkhusus di kalangan pelajar (mahasiswa sebagai Agent of Change) mampu merevisi dan menimbang semua permasalahan di masyarakat terhadap apa yang terjadi bukan hanya ikut ikutan layaknya tak mempunyai pendirian.
Namun dewasa ini terjadi fenomena yang cukup menggelitik nalar berpikir penulis. Bagaimana tidak, setelah diamati dewasa ini kesadaran perlahan dikonstruksi oleh sosial media baik melalui berita di Instagram, Facebook, Youtube, Twitter, WhatsApp dan aplikasi media sosial lainnya.
Kutipan dari Adorno dan Horkheimer (1972) yang menyatakan bahwa melihat propaganda yang sangat kuat datang dari media. Penulis mengajak untuk menggunakan media mesti bijak dan mempunyai solusi solutif terhadap apa yang di sampaikan apalagi di tengah-tengah wabah corona (covid-19) yang sedang melanda seluruh dunia khususnya Indonesia. Wabah yang asalnya dari negeri Wuhan China pada pertengahan 2019 lalu yang kemudian merambah dibeberapa negara salah satunya Indonesia.
Data yang di peroleh dari Jakarta, CNN Indonesia — Jumlah pasien positif terinfeksi virus Corona (Covid-19) di Indonesia, per Kamis (2/4), mencapai 1.790 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 170 jiwa dan angka yang sembuh 112 orang. Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, dalam keterangan persnya di gedung BNPB, Jakarta, Kamis (2/4) mengatakan bahwa karena wabah ini dianggap berbahaya dan penularannya cukup cepat hanya melalui interaksi atau kontak tubuh dengan orang yang terkena penyakit tersebut akan menular begitu cepatnya layaknya air yang bisa mengalir ke mana saja salah satu peran media di sini menginformasikan kepada masyarakat untuk tetap melakukan aktivitas di rumah saja (social distancing).
Memberi pemahaman tentang wabah ini bukan merekonstruksi masyarakat melakukan hal yang tidak wajar seperti kasus yang beredar di sosmed kemarin dan hadir membiarkan pemahaman yang luas akan pentingnya menjaga kesehatan kita dan sosialisasi mesti dilakukan baik dalam bentuk verbal dan non verbal agar masyarakat bisa mencerna apa yang ingin disampaikan.
CNN dinas kesehatan DKI Jakarta terbitkan surat edaran tentang kewaspadaan covid-19 himbauan seluruh instansi untuk tetap menjaga jarak dan menghentikan aktivitas yang sifatnya di luar rumah olehnya itu kita sebagai masyarakat dan manusia yang terdidik bisa menggunakan media selayaknya dan bijak dalam menggunakan media sebab kita semua adalah pahlawan untuk melawan virus corona (covid-19) media pemerintah dan masyarakat.
Ayo mulailah tanamkan kesadaran bahwa peran kita di dunia ini berarti untuk melawan semua tantangan pandemi covid-19 sebab kesatuan menciptakan keharmonisan. Salam baca sampai bodoh.
Penulis : Riswan
(Mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Semester IV. universitas Islam negeri Makassar)
*Tulisan tanggungjawab penuh penulis*





