SULSELBERITA.COM – Seekor semut menatap langit hingga ia bergumam dalam hati “Tuhan.. Bumiku Sekarat” dan ditambah lagi, kepentingan-kepentingan yang melambungkan ego para penguasa.
Andai saja, seekor semut mampu menumbangkan dinding kepalsuan maka cahaya kebenaran akan cepat menyentuh jiwa yang meradang.
Pepatah arab selalu asyik di dengar lalu bunyinya seperti ini; “Against my brother, my brothers and I against my cousins, then my cousins and I against strangers”
Artinya adalah, aku melawan
kakakku; kakakku dan aku melawan sepupuku;
sepupu-sepupuku, saudara-saudaraku melawan orang asing”.
Pepatah ini adalah simbol kesetiaan sehingga jika disematkan dalam kehidupan tentu relasi yang cocok ialah keluarga untuk segalanya.
Tambuk kepemimpinan selalu bermuara pada satu konsentrasi yakni kepedulian. Akan tetapi untuk kepedulian itu sendiri merupakan reaksi dalam jiwa (Ruhaniah) yang direspon oleh raga (Jasmaniah) lalu dieksekusi dengan baik oleh panca indra (Batiniah).
Sekali lagi, perut si semut merah merasakan geli tiada tara ketika mendengar kabar yang sesungguhnya jauh lebih jenaka daripada cerita lawak ataupun stand up comedy.
Bagaimana tidak, ketika Negeri yang sedang sekarat. Saat bumi pertiwi terluka maka konspirasi bermunculan untuk menciptakan pil keajaiban bagi para penguasa di Negeri dongeng.
Kabar sang bayu begitu kencang hingga rasa geli silih berganti rasa menjadi mual dan sebentar lagi rasa itu berganti menjadi Kemuntahan sebab kalimat yang disampaikan cukup menafsirkan ribuan tanya.
” Kabarnya, ada Asimilasi atau dispensasi bagi para napi sebanyak 30 ribu termasuk para Koruptor dengan syarat masa tahanan di bawah 5 tahun, Usia di ataa 50 Tahun, dan 3/4 masa tahanan yang telah dilalui”.
Dengan alasan yang cukup rasional untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19 dan memanusiakan manusia tapi ini akan memicu bau yang sangat busuk bermunculan dipermukaan. Sebut saja agenda ini telah direncanakan sejak dulu tapi berbuntut panjang tapi dengan adanya isu Covid-19 telah memuluskan rencana.
Di satu sisi, para penentang bersuara dan bernarasi bingung tapi ini bukanlah masalah yang pelik. Sebab, mata dan telinga rakyat semut merah telah lama diperbaiki secara baik dan masif.
Pemegang kekuasan berdalih ” Tenang saja karena tidak akan ada revisi PP tentang para Koruptor mendapatkan potongan kue dari hasil muslihat”.
Tiada yang tahu bahwa melihat senja di bibir pantai jauh lebih nyata dan nyaman ketimbang memercayai omongan para pendulang berkata manis nan menyakinkan.
Menatap ke depan nan jauh di seberang negeri mungkin ada peluang untuk mendamaikan hati. Jarum kebenaran seakan luput dari rentetan angka kepalsuan, jarum panjangnya berdenyut rengkuh di angka ketidakpastian, dan jarum pendeknya berjalan setapak di pelukan kehampaan.
Begitu banyak harapan-harapan yang ingin disemogakan dan semoga saja dikemudian hari Tuhan menjawab harapan ini dengan kecintaan yang dimulai dari kepedulian, kemakmuran, kebijaksaan, Kesejateraan, bahkan Keadilan bagi seluruh rakyat Semut Merah.
Terakhir, gumam dari seekor Semut merah ” There isn’t can hurt my country without the my permission and i’ll fight those who wants to damage my world”.
Penulis : Wardiman Sultan Madir
( Dewan Pembina Organisasi IMPERA )
“Tulisan tanggung jawab penuh penulis”





