HIPMIK Gelar Dialog Publik Bertema “Pancasila dalam Cengkraman Radikalisme”

0
142

SULSELBERITA.COM. Makassar-Dalam menyongsong hari Pahlawan 10 November, Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam Kedang (HIPMIK) Lembata NTT Makassar adakan Dialog Publik dengan tema "Pancasila dalam Cengkraman Radikalisme".

Dialog yang berlangsung pada sabtu 9/11/19 di Ewa Coffe Jl. Perintis Kemerdekaan KM VII No. 67 ini berjalan dengan tertib dan antusias diikuti oleh kalangan Mahasiswa NTT. Menghadirkan 3 pemateri luar biasa dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda, diharapkan mampu membuka cakrawala pemikiran yang tidak monoton melihat satu kasus dari 1 sudut pandang disiplin ilmu.

Ainul Yakin, yang disebut sebut sebagai Aktifis HMI, diundang sebagai pemateri dalam diskusi ini, bersama dengannya Mukhlisin Said Aktifis IMM dan Noer Ramadhan Laudu, Aktifis Human Illumination. Ketiga pemateri ini cukup mewakili pemikiran dan pandangan yang beragam tentang isu isu kebangsaan yang sekarang menjadi tranding topic media massa.

Baca Juga  Di Dampingi Legislator PPP, Warga Ko'mara Gugat Balai Pompengan

Pandangan yang berbeda bahkan cenderung bertolak belakang dalam diskusi ini menjadikan forum hidup dan aktif dalam memberikan pertanyaan dan tanggapan tanggapan mengenai Pancasila dan Radikalisme.

Dalam pandangannya, Mukhlisin menyebutkan jika Masalah besar bangsa hari ini bukanlah ancaman Radikalisme, namun justru ketidakmampuan negara dalam hal ini pemerintah yang otoriter berdiri dalam bangsa yang Demokratis, sehingga diciptakan isu Radikalisme untuk membenturkan sesama anak bangsa.

"Isu dan permasalah bangsa yang substansial itu dikaburkan dengan isu Radikalisme, karna ketidakmampuan negara dalam mengolah problem bangsa" tutur Mukhlis dalam penyampaian materinya.

Mukhlis juga mengomentari soal Radikalisme yang menyasar pada prinsip cara berfikir serta berekspresi masyarakat. Menurutnya pemerintah tidak mampu membedakan persoalan Etik dan estetik. Sehingga setiap yang bertentangan dengan ide pemerintah maka mereka adalah radikal.

Baca Juga  Seorang Pria Pembawa Shabu Dibekuk Satuan Narkoba Polres Gowa

Di sisi yang lain, Mukhlis menyebutkan, jika Pancasila lahir dari nilai dan budaya luhur bangsa Indonesia, maka harus mengejawantahkan prinsip pluralisme dan multikulturalisme Bangsa. Bukan malah menjadi alat me-Radikalisasi kebenaran diluar kebenaran menurut pandangan Pemerintah sebagai corong Negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here