Masyarakat Bung, F8 Bukan Panggung Politik, Mari Ramaikan

291

SULSELBERITA.COM. Makassar-Pro dan Kontra terkait penyelenggaraan Festival F8 (Fusion Music, Fashion, Film, Fine Art, Fiction Writers & Font, Food & Fruit, Folk serta Flora & Fauna) adalah hal yang wajar, apalagi kegiatan tersebut telah digelar sejak tahun 2016, dan baru kali ini dilaksanakan oleh pihak swasta.

Festival F8 harusnya digelar bulan September. Namun, (Pjs) Walikota Makassar Iqbal Suaeb secara resmi membatalkan penyelenggaran Festival F8 dengan alasan membebani anggaran daerah.

F8 yang batal dilaksanakan oleh pihak pemerintah kemudian diambil alih oleh penggagas, Muhammad Ramdhan Pomanto (DP), mantan Walikota Makassar, dan pihak swasta untuk dilaksanakan di bulan Oktober dengan alasan event tersebut sudah menjadi ajang internasional yang masuk ke dalam kalender kegiatan Kementerian Pariwisata Indonesia.

Baca Juga  Sinergitas Tiga Pilar Desa Bontomanai Menghimbau Kepada Warga Untuk Mewaspadai Penularan Virus Covid -19
Advertisement

Meski penyelenggaraan F8 tetap terlaksana tanpa membebani anggaran daerah, dan dilaksanakan di tempat yang berbeda dari tahun sebelumnya, namun masih ada beberapa pihak yang ingin membatalkan terselenggaranya event tersebut, dengan anggapan bahwa Festival F8 merupakan kegiatan yang politis.

Salah satu masyarakat Bung, Agus, saat ditemui di Tamalanrea, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan F8, sebab F8 sudah masuk sebagai salah satu dari 100 Wonderful Events di Indonesia. Membatalkan F8 berarti memutus konsistensi yang sudah digelar selama tiga tahun berturut-turut.

"F8 ini bukan panggung politik, tapi event kebanggaan kota Makassar di mata Internasional, ayo datang", ungkapnya, Kamis (10/10/2019).

Advertisement
BAGIKAN