SULSELBERITA.COM. Takalar – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menyiapkan beasiswa bagi anak-anak penghafal Al-Qur’an di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Selain beasiswa, Daeng Manye juga mendorong santri terlibat sebagai Event Organizer (EO) dalam berbagai kegiatan Pemerintah Kabupaten Takalar.
Hal itu disampaikan Daeng Manye saat menghadiri Panggung Gembira 616 Pondok Modern Mahyajatul Qurra’ Lassang, Jalan Masjid Raya Syuhada Tammuloe, Desa Lassang, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Sabtu (19/9/2026) malam.
Daeng Manye hadir didampingi istrinya, Dewi Sri Ekowati Firdaus.
Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Takalar H Solihin, Camat Polongbangkeng Utara Aji Sangaji, serta Pimpinan Pondok Pesantren Mahyajatul Qurra’ KH Hafidh Zainul Musthofa.
Dalam sambutannya, Daeng Manye mengapresiasi perkembangan Pondok Pesantren Mahyajatul Qurra’ yang dinilainya terus mengalami kemajuan.
“Alhamdulillah, saya melihat kemajuan Pondok Pesantren Mahyajatul Qurra’. Semakin bertambah gedung dan tempat belajarnya. Ini berarti kemajuan pondok adalah kemajuan Takalar,” kata Daeng Manye.
Ia mengatakan Pemkab Takalar akan terus memberikan ruang bagi pondok pesantren untuk berkembang dan berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia.
Salah satu bentuknya melalui rencana Festival Pondok Pesantren yang dijadwalkan pada 22 Oktober 2026.
Daeng Manye mengaku terinspirasi menggelar festival tersebut setelah melihat penampilan para santri dalam Panggung Gembira di Pondok Pesantren Modern Nurul Assafa.
“Saya terinspirasi. Setelah itu kami mengundang para pimpinan pondok, termasuk pimpinan Pondok Mahyajatul Qurra’, untuk datang ke kantor Pemkab Takalar. Saya menyampaikan keinginan dan niat untuk mengadakan Festival Pondok Pesantren,” ujarnya.
Menurutnya, festival tersebut nantinya tidak hanya menjadi ruang bagi santri untuk tampil, tetapi juga menjadi tempat mengembangkan kemampuan mengelola sebuah kegiatan.
“Saya mau EO-nya adalah anak-anak pondok pesantren. Mereka bebas berkreasi. Mereka diberi rencana, kemudian membuat rencana, melaksanakan, dan mengelola sendiri,” katanya.
Dalam konsep yang disampaikan Daeng Manye, para santri akan dilibatkan mulai dari penampilan hingga berbagai kebutuhan teknis sebuah kegiatan.
“Mulai dari penampilan, lighting, pencahayaan, panggung, background, backdrop, sound system dan sebagainya, mereka kelola dengan kreativitas anak-anak seperti yang ditampilkan malam ini,” lanjutnya.
Daeng Manye bahkan membuka peluang agar santri menjadi pengelola dalam berbagai kegiatan Pemkab Takalar.
“Kalau ada event-event di Pemerintah Kabupaten, coba utamakan atau pilih dari pondok pesantren untuk menjadi EO. Yang di Pemerintah Kabupaten cukup diam saja, biar anak-anak ini yang menjadi EO,” ujarnya.
Ia mengatakan keterlibatan tersebut dapat menjadi praktik bagi santri untuk membangun kemandirian, keberanian tampil, serta kemampuan mengelola kegiatan.
“Kita latih dan kita buka ruang bagi mereka untuk tampil. Ini sekaligus sebagai praktik ekstrakurikuler agar mereka diberi kemandirian, keberanian untuk tampil, dan kemampuan mengelola sebuah event,” katanya.
Menurut Daeng Manye, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi santri setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren.
“Saya yakin ketika sudah tidak di pondok lagi, pengalaman itu sangat bermanfaat bagi mereka. Karena itu, Pemerintah Kabupaten membuka ruang agar anak-anak kita punya tempat untuk melaksanakan kegiatan yang bisa dipraktikkan,” katanya.
Selain mendorong keterampilan santri, Daeng Manye juga menyampaikan rencana penguatan pendidikan Al-Qur’an di tingkat desa dan kelurahan.
Pemkab Takalar akan mengintegrasikan taman bacaan Al-Qur’an dan tahfiz yang berada di desa serta kelurahan.
“Kami mulai memikirkan bagaimana mengaktifkan tahfiz-tahfiz Al-Qur’an yang ada di masing-masing desa dan kecamatan agar terintegrasi dan menjadi potensi mereka untuk menjadi santri di pondok,” katanya.
Ia menyebut pendataan guru dan santri nantinya akan dilakukan melalui aplikasi registrasi.
“Secara bertahap saya mau mengaktifkan taman-taman bacaan Al-Qur’an, termasuk tahfiz, dengan menggunakan aplikasi registrasi bagi guru yang mengajar dan santri yang belajar. Mereka akan terdaftar dan insyaallah kami link-kan dengan pendidikan formal,” lanjutnya.
Dari program tersebut, Pemkab Takalar juga menyiapkan skema beasiswa bagi anak-anak yang memiliki hafalan Al-Qur’an.
“Apabila mereka hafal dari juz 1 sampai 10, maka mereka dapat beasiswa. Juz 1 sampai 20 tentunya lebih tinggi lagi perhatian yang didapatkan dari pemerintah,” ujarnya.
“Kalau sampai 30 juz kalau perlu. Mereka yang kuliah sampai di luar Sulawesi Selatan pun akan dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten. Jadi ini kesempatan bagi anak-anak kita semua,” kata Daeng Manye.
Ia berharap penguatan pendidikan Al-Qur’an dapat berjalan seiring dengan pembentukan karakter masyarakat.
“Kami ingin literasi Al-Qur’an dan kehidupan bermasyarakat kita semakin bernilai keislaman. Itu dimulai dari mendidik anak-anak kita, termasuk melalui kehidupan pondok pesantren,” ujarnya.
Festival Pondok Pesantren yang direncanakan digelar pada 22 Oktober juga akan diisi sejumlah agenda.
Di antaranya apel santri, gerak jalan, pameran, diskusi, dialog tentang peran pondok atau santri, hingga pagelaran seni pondok pesantren.
Daeng Manye mengatakan festival tersebut menjadi ruang untuk melihat kreativitas dan inovasi para santri.
Ia juga mengapresiasi Pondok Pesantren Mahyajatul Qurra’ yang disebut telah melahirkan alumni dengan berbagai profesi selama 20 tahun.
“Pondok ini selama 20 tahun telah melahirkan alumni-alumni yang bagus. Ada yang menjadi tentara, polisi, perawat, dan berbagai profesi lainnya,” katanya.
“Ini menunjukkan bagaimana pondok kita, khususnya Mahyajatul Qurra’, memberikan pendidikan kepada generasi kita ke depan agar bermanfaat bagi keluarganya, negaranya, dan agamanya,” pungkasnya.
Pembukaan Panggung Gembira 616 kemudian ditandai dengan penekanan tombol secara bersama-sama oleh Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye, Kepala Kemenag Takalar H Solihin, dan Pimpinan Pondok Pesantren Mahyajatul Qurra’ KH Hafidh Zainul Musthofa.
Keterangan Foto:
BEASISWA PENGHAFAL AL-QUR’AN – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye memberikan sambutan saat menghadiri Panggung Gembira 616 Pondok Modern Mahyajatul Qurra’ Lassang, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Sabtu (19/9/2026) malam. Dalam sambutannya, Daeng Manye menyampaikan rencana beasiswa bagi penghafal Al-Qur’an dan mendorong santri menjadi Event Organizer kegiatan Pemkab Takalar.
PANGGUNG PONDOK PESANTREN – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye bersama Kepala Kemenag Takalar H Solihin dan Pimpinan Pondok Pesantren Mahyajatul Qurra’ KH Hafidh Zainul Musthofa menekan tombol secara bersama-sama saat pembukaan Panggung Gembira 616. Penekanan tombol tersebut menandai dimulainya kegiatan Panggung Gembira 616 di Pondok Modern Mahyajatul Qurra’ Lassang.






