Mahasiswa KKN Unhas Gelar Sosialisasi Pembuatan Bioherbisida Daun Mangga di Desa Salobukkang

SULSELBERITA.COM. Sidrap – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan bioherbisida (pembasmi gulma alami) di Desa Salobukkang, Kecamatan Duapitue, pada Senin (27/7)]. Program kerja individu ini dibawakan oleh Muh Rezki Nurmansyah, mahasiswa dari program studi Teknik Pertanian.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keluhan petani setempat mengenai biaya produksi pertanian yang cukup tinggi, salah satunya untuk pembelian herbisida kimia. Selain itu, penggunaan herbisida kimia dalam jangka panjang juga dinilai dapat memengaruhi kualitas kesuburan tanah sawah.

Bacaan Lainnya

HUT RI 81 Bupati dan Wakil Bupati Takalar

Di sisi lain, limbah daun mangga kering cukup mudah ditemukan di pekarangan warga Desa Salobukkang namun belum dimanfaatkan. “Daun mangga yang sudah tua sebenarnya memiliki kandungan senyawa alami seperti fenol dan tanin.

Senyawa ini bisa dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan biji rumput liar di lahan sawah sebelum ditanami,” jelas Rezki.

Dalam pelaksanaannya, warga dan anggota Kelompok Tani diajak melihat langsung proses pembuatan bioherbisida tersebut. Prosesnya cukup sederhana, yaitu dengan mencacah daun mangga kering, merendamnya di dalam wadah berisi air bersih selama empat hari, lalu disaring untuk diambil air ekstraknya.

Rezki juga menjelaskan aturan pakai bioherbisida ini, khususnya untuk lahan sawah dengan sistem Tanam Benih Langsung (Tabela) yang banyak diterapkan warga. Cairan tersebut disemprotkan saat kondisi lumpur macak-macak* (sedikit berair). Setelah disemprot, lahan perlu didiamkan selama 7 hingga 10 hari sebelum benih padi dihamburkan, agar senyawa alami tersebut bekerja maksimal mematikan gulma dan kembali netral sehingga aman bagi benih padi.
Selain demonstrasi, mahasiswa KKN juga membagikan brosur panduan bergambar kepada warga yang hadir. Brosur tersebut berisi langkah-langkah pembuatan dan aturan pakai agar petani bisa mempraktikkannya sendiri di rumah.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan para petani di Desa Salobukkang mendapatkan alternatif solusi penanganan gulma yang lebih hemat biaya, memanfaatkan bahan di sekitar, dan lebih ramah terhadap lingkungan.

Pos terkait