Kapalnya Tenggelam di Pulau Wetar, Nakhoda KLM. Irsal Berharap Bantuan Pemulangan

85

SULSELBERITA.COM. Selayar - Musibah laka laut menimpa warga Dusun Latokdok Timur, Desa Kalao Toa, Kecamatan Pasilambena, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Musliadi (39 tahun) bersama puteranya, Aditiya (17 tahun) yang bertolak meninggalkan Pasilambena dengan maksud berburu telur ikan dan memuat kerbau dari Pulau Wetar menuju Pulau Kalao Toa.

Namun naas, karena saat berencana akan kembali ke Pasilambena, pada hari, Jum'at, (8/12) kemarin, kapal KLM. Irsal yang dikemudikan korban, mendadak mengalami trouble pada bagian mesin dan tidak dapat dioperasikan.

Advertisement

Diluar dugaan, angin timur yang disertai badai gelombang pasang air laut, datang tiba tiba menghantam body kapal dan menyebabkan kapal terhempas hingga ke pinggir pantai.

Beruntung, karena korban bersama puteranya, berhasil lolos dari maut dan menyelamatkan diri ke darat.

Nakhoda KLM. Irsal, Musliadi (39 tahun) menuturkan, pasca insident itu, hampir tidak ada satupun barang yang bisa terselamatkan dari atas kapal,

Kekuatan gelombang, menyebabkan bagian kamar dan body kapal hancur berkeping keping.

Kendati begitu, nakhoda yang dibantu warga berhasil menyelamatkan dua unit mesin kapal yang dievakuasi ke darat bersama sisa bahan bakar solar.

Akan tetapj, sisa bahan bakar solar yang berhasil diselamatkan, habis dijarah, ungkapnya menguraikan kronologis kejadian.

Pasca musibah tersebut, korban dan puteranya, terpaksa harus tinggal menempati rumah kebun milik Udin, warga Pulau Kalao Toa yang sudah sejak lama tinggal berdomisili di wilayah Desa Ilputih, Kecamatan Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

Korban mengaku, sudah sepuluh hari mencoba bertahan hidup dengan berbekal sisa uang yang hanya tinggal tiga puluh ribu rupiah di kantong.

Bermodalkan bantuan warga dan sisa uang yang dikantonginya, korban mencoba untuk bergeser meninggalkan Desa Ilputih dan berpindah lokasi ke Desa Masapun (Mahuan) untuk mencari jaringan telefon selular dan bantuan pertolongan.

Ditengah keterbatasan finansial yang dimilikinya, Musliadi berharap bisa segera mendapat bantuan fasilitasi pemulangan ke kampung halamannya di Pulau Kalao Toa. (Fadly Syarif)