Di Tuding Gagal, Puluhan Ibu Ibu Serbu Kantor Desa, Minta Kades Ujung Baji’ Turun Dari Jabatannya

837

SULSELBERITA.COM. Takalar -  Polemik Aktifitas penambangan pasir di Desa Ujung Baji Kec.Sanrobone Kab.Takalar, tak juga kunjung reda, bahkan semakin memanas, hari ini, Kamis (8/2/2018), puluhan warga Ujung Baji yang di dominasi oleh ibu rumah tangga (IRT), menyerbu kantor Desa mereka untuk melakukan aksi unjuk rasa.

Puluhan ibu ibu tersebut, memblokir jalan di depan kantor desa, dan melakukan pembakaran ban bekas. Aksi yang dilakukan oleh para ibu ibu ini, di duga dilakukan secara spontanitas.

Sebelum mereka melakukan pemblokiran jalan dan menyerbu kantor desa,  para ibu ibu tersebut mendatangi lokasi tambang, dan mengusir mobil eskavator di lokasi yang sedang beroperasi." Ini bentuk kekesalan dan keresahan warga desa ujung baji karena tidak lagi di dengar aspirasinya oleh pemerintah setempat dan juga aparat kepolisian Polres Takalar". ujar salah seorang pengunjuk rasa.

Baca Juga  Gelar Unjuk Rasa di Depan Kantor Kejati, FORMAT : Copot Kejari Tana Toraja, Kejati Sulsel Segera Usut Kasus Dugaan Korupsi Dana SIAK Disdukcapil Tana Toraja

Dari hasil pantauan awak media di lokasi unjuk rasa tengah berlangsung, nampak Kanit Tipiter Polres Takalar, Novi mencoba berkomunikasi dengan pengunjuk rasa namun warga tidak mendapatkan solusi.

Sehingga masyarakat pun menuntut agar kepala desa turun dari jabatannya karena mereka menganggap pemerintah desa tidak tegas dan tidak lagi mementingkan masyarakatnya. "Kami menilai Kepala desa Ujung Baji telah gagal memimpin desa Ujung baji karena dia tidak pernah memikirkan kepentingan masyarakatnya", Teriak seorang ibu ibu  dengan suara lantang.

"Sejak berjalannya tambang tersebut kami selaku masyarakat sangat dirugikan akibat jalan rusak parah dan kekhawatiran kami terhadap keselamatan warga dan anak sekolah saat berkendara karena banyaknya truk yang lalu lalang" ujar salah seorang pengunjuk rasa lainnya.

Baca Juga  Sampah dan IPAL tidak Terurus, GMPI Laporkan RS Wisata UIT

Dampak yang di khawatirkan juga adalah beroperasinya tambang di dekat pesisir pantai dusun Galumbaya dan dusun makkio baji akan mengakibatkan abrasi. "Kami tegaskan bahwa aksi ini tidak sampai disini, apabila tambang pasir tersebut tidak diberhentikan maka kami tidak akan berhenti melakukan aksi unjuk rasa",

Sementara Kanit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Novi Kurniawan mengatakan kegiatan percetakan tambak itu memiliki ijin dan surat suratnya lengkap berdasarkan dengan syarat dari Kementrian dari lingkungan hidup. Berdasarkan hasil dari kajian dampak lingkungannya itu tidak ada berdasarkan dengan hasil penelitian Menteri lingkungan hidup.

Jum'at lalu warga Ujung baji memang pernah aksi didepan Polres Takalar dan salah satu tuntutannya mau dipertemukan dengan kepala desa dan penambang. Pada saat itu pihak Polres berhasil memediasi mereka sehingga musyawarah dilakukan di Kantor desa yang dihadir Kepala Desa, penambang dan beberapa warga yang keberatan.

Baca Juga  Janji Tarik Semua Air Gelas FA yang Kotor di Peredaran, PT.Fen Tirta Nata Ternyata "Bohong"

Hasil musyawarah itu, mereka sepakat agar tetap diberikan waktu selama satu bulan kepada penambang untuk tetap melakukan aktivitas percetakan tambak "Dimana yang dicetak tambak itu adalah lahan tidur atau lahan tidak produktif". Mengingat waktu yang diberikan sangat singkat sehingga semalam (rabu malam 7/2) pengusaha tambang menambah satu alat berat untuk mengupayakan percetakan tambak bisa selesai selama sebulan. Mungkin distulah setelah warga merasa kebratan dan diresahkan bahkan keluar dari kesepakatan pada saat musyawarah.

BAGIKAN