Tolak Risiko: Wali Murid Minta Jaminan Kualitas Makanan MBG di Sekolah

HUT ke-81 RI Bupati dan Wakil Bupati Takalar

HUT ke-81 RI Ketua DPRD Takalar

SULSELBERITA.COM. TAKALAR – Keprihatinan dan kekhawatiran melanda kalangan wali murid di SMP Negeri 2 Takalar. Sebanyak 28 siswa dilaporkan mengalami keluhan sakit perut setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (2/9/2026). Insiden ini memicu tuntutan agar pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta sekolah bertanggung jawab dan menjamin keamanan pangan ke depannya.

 

Bacaan Lainnya

HUT ke-81 RI ody Riyan Saputra - Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Takalar

dr. Ruslan Ramli, M. Adm. Kes, HUT Ke-81 RI

Bansuhari Said - Camat Pattallassang Kabupaten Takalar

HUT ke-81 RI Ayatullah Rawatib - Plt. Camat Polongbangkeng Selatan

Firmansyah Habsi - Lurah Pappa Kecamatan Pattallassang - Takalar

dr. irmayani, HUT Ke-81 RI

Himbaun Pasang Bendera Merah Putih HUT ke-81 RI

Kejadian ini sontak menjadi sorotan masyarakat, mengingat MBG merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan asupan gizi pelajar. Meski mendukung tujuan mulia tersebut, para orang tua menegaskan bahwa keamanan, higienitas, dan kelayakan konsumsi makanan tidak boleh diabaikan.

 

Sejumlah wali murid menyampaikan kekecewaan mereka, menilai makanan yang disajikan seharusnya melewati pemeriksaan ketat sebelum sampai ke tangan siswa. Mereka menuntut pengawasan yang jauh lebih maksimal dari pihak sekolah maupun SPPG, mulai dari proses pengolahan, penyimpanan hingga pendistribusian.

 

“Kami sangat mendukung program MBG karena manfaatnya besar bagi anak-anak. Namun, kualitas dan kebersihan harus menjadi prioritas utama agar musibah seperti ini tidak terulang,” ujar salah satu orang tua siswa.

 

Masyarakat berharap pihak berwenang segera menelusuri akar masalah kesehatan tersebut dan mengambil langkah perbaikan komprehensif. Dengan pengawasan yang lebih ketat, program ini diharapkan tetap berjalan lancar dan memberikan manfaat gizi yang optimal tanpa membahayakan keselamatan peserta didik.

Pos terkait