SULSELBERITA.COM. Takalar, 17 Juni 2026 – Pemerintah Kabupaten Takalar resmi meluncurkan program inovatif bernama Assamaturu Bebas TBC, sebuah gerakan kolaboratif yang digagas Kepala Dinas Kesehatan, dr. Hj. Nilal Fauziah, M.Kes, untuk mempercepat penurunan dan penghapusan penyakit Tuberkulosis di daerah ini. Peluncuran dirangkaikan dengan pengukuhan 110 Duta Assamaturu Bebas TBC oleh Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, di Ruang Pola Kantor Bupati.
Kegiatan yang dihadiri unsur Forkopimda, pimpinan instansi, camat, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tenaga kesehatan ini menandai langkah baru dalam penanganan TBC. Nama “Assamaturu” diambil dari bahasa Makassar yang berarti “bergerak bersama menuju satu tujuan”.
Data dan Tantangan Penanganan
Menurut catatan Dinas Kesehatan, pada tahun 2025 tercatat sekitar 1.247 kasus TBC. Meskipun angka penemuan kasus sudah mencapai 78% dan keberhasilan pengobatan 89%, masih ada kendala utama: rendahnya kesadaran masyarakat, stigma negatif terhadap penderita, serta banyak kasus yang belum terdeteksi.
“Angka yang ada ibarat gunung es; banyak penderita yang malu atau enggan memeriksakan diri sehingga belum tercatat,” ujar Bupati Daeng Manye.
Pendekatan dan Bentuk Program
Inovasi ini menerapkan sistem Heptahelix yang melibatkan tujuh unsur: pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, tokoh agama, dan tokoh adat. Selain membentuk duta, juga didirikan Pos TBC Desa di 110 wilayah desa dan kelurahan. Pos ini berfungsi sebagai tempat edukasi, skrining awal, pendampingan pengobatan, serta pelaporan kasus.
dr. Nilal Fauziah menegaskan bahwa gerakan ini tidak hanya tugas petugas kesehatan, tetapi tanggung jawab bersama.
“Dengan semangat Assamaturu, kita satukan langkah agar Takalar benar-benar bebas dari TBC pada tahun 2030,” katanya.
Dukungan dan Harapan
Bupati Daeng Manye memberikan apresiasi tinggi dan mengajak seluruh warga bersatu. Ia berharap para duta dan petugas di pos desa bisa menjadi garda terdepan mendeteksi kasus lebih dini, memberikan pendampingan, serta mengubah pandangan masyarakat agar tidak takut memeriksa kesehatan.
“Kalau ditemukan lebih awal dan diobati tuntas, penularan bisa dihentikan. Bersama-sama kita wujudkan Takalar yang sehat dan bebas TBC,”







