SULSELBERITA.COM. Takalar – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar terus kembangkan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan melalui produksi songkok anyam. Program tersebut menjadi salah satu pembinaan unggulan untuk bekali Warga Binaan dengan keterampilan produktif.
Kepala Subseksi Bimbingan Kerja, Rizal, mengatakan jumlah Warga Binaan yang ikuti pelatihan menganyam songkok terus bertambah. Untuk menjaga keberlanjutan program, Warga Binaan yang telah mahir turut berperan membimbing peserta baru.
“Kami terus melakukan kaderisasi kepada Warga Binaan baru. Warga Binaan yang sudah mahir menganyam akan membimbing Warga Binaan lainnya sehingga keterampilan ini terus berkembang,” ujarnya, Rabu (3/6).
Rizal menjelaskan, hasil produksi songkok anyam saat ini dipasarkan kepada para pengunjung. Harga jualnya berkisar antara Rp130.000 hingga Rp150.000 per buah, tergantung model dan motif yang dipilih.
“Saat ini Warga Binaan mampu memproduksi sekitar tiga songkok anyam dalam sebulan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Takalar, Andi Gunawan, mengatakan pihaknya terus berupaya mengoptimalkan berbagai program pembinaan yang ada, termasuk produksi songkok anyam yang menjadi salah satu unggulan di Lapas Takalar.
“Kami memiliki beberapa program pembinaan, seperti perkebunan, perikanan, industri batako, serta kerajinan songkok yang menjadi salah satu pembinaan unggulan di Lapas Takalar,” jelasnya.
Menurut Andi, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan Warga Binaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal yang mulai berkurang peminatnya.
“Pengrajin songkok guru semakin berkurang. Karena itu, melalui pembinaan ini kami turut berupaya melestarikan budaya tersebut. Kami juga berterima kasih kepada pemerintah daerah atas dukungannya sehingga produk songkok anyam Lapas Takalar semakin dikenal masyarakat,” ungkapnya.
Salah seorang Warga Binaan, NP, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui program pembinaan tersebut.
“Saya senang bisa terlibat dalam kegiatan ini karena memiliki aktivitas yang bermanfaat selama menjalani pembinaan. Harapannya, saat bebas nanti saya dapat mengembangkan keterampilan ini di masyarakat,” ujarnya






