Tergiur Harga Murah, Siswi 14 Tahun di Makassar Jadi Korban Penipuan Jual Beli Akun Game di Instagram

Idul Adha - Bupati Takalar

SULSELBERITA.COM. MAKASSAR – Maraknya aktivitas jual beli barang dan aset digital di dunia maya kembali memakan korban. Kali ini, seorang siswi berusia 14 tahun berinisial AQ, pelajar di salah satu sekolah swasta di Kota Makassar, menjadi korban dugaan penipuan yang dilakukan melalui media sosial Instagram. Pelaku beraksi dengan modus menawarkan penjualan akun gim populer Free Fire (FF) dengan harga jauh di bawah pasaran dan mengaku sebagai penjual yang terpercaya.

Peristiwa ini terungkap setelah korban menceritakan kronologi kejadiannya kepada media Suara Utama, Sabtu (30/5/2026). Aqiilah mengaku awalnya tertarik melakukan pembelian karena akun Instagram penjual tersebut terlihat sangat meyakinkan dan menawarkan keuntungan yang menggiurkan.

Bacaan Lainnya

Idul Adha - Camat Pattallassang

Menurut keterangan korban, akun tersebut mempromosikan berbagai jenis akun gim dengan beragam keunggulan, mulai dari level yang tinggi, koleksi item atau barang langka, hingga tampilan akun yang diklaim sangat menarik. Untuk membangun kepercayaan, pelaku juga kerap mengunggah bukti transaksi dan testimoni yang diduga palsu guna memanipulasi pandangan calon pembeli.

“Saya melihat akun itu menawarkan akun Free Fire murah dan katanya terpercaya. Karena terlihat meyakinkan dengan semua bukti yang mereka unggah, saya akhirnya tertarik untuk membeli dan melakukan pembayaran sesuai kesepakatan,” ungkap Aqiilah saat diwawancarai melalui pesan singkat WhatsApp.

Namun, setelah uang diserahkan, janji penyerahan akun gim yang dijanjikan tidak pernah terwujud. Kondisi berbalik arah ketika komunikasi mulai terputus. Pihak penjual mulai sulit dihubungi, pesan tidak lagi dibalas, hingga akhirnya akun tersebut menghilang dan tidak bisa diakses lagi. Korban pun harus menelan kekecewaan mendalam dan mengalami kerugian materiil.

“Saya sangat kecewa. Uang sudah hilang, dan saya merasa tertipu habis-habisan karena sudah percaya sepenuhnya pada apa yang mereka tampilkan di akun mereka,” lanjutnya.

Menyikapi kejadian tersebut, keluarga korban menyayangkan tindakan pelaku yang dinilai memanfaatkan kepolosan anak-anak. Pihak keluarga berharap pelaku segera menyadari kesalahannya dan beritikad baik untuk mengembalikan uang korban. Harapan ini disampaikan agar masalah tidak berlarut-larut dan tidak ada lagi anak atau remaja lain yang menjadi sasaran kejahatan serupa.

“Kami berharap pelaku segera mengembalikan uang korban. Jangan sampai semakin banyak anak-anak yang menjadi korban karena modus seperti ini yang sangat merugikan,” ujar perwakilan keluarga.

Kasus ini kembali menjadi bukti bahwa praktik penipuan daring masih sangat marak terjadi, dengan target utama anak-anak dan remaja yang aktif menggunakan media sosial maupun platform gim. Umumnya, modus yang dipakai pelaku adalah menawarkan barang digital, akun permainan, atau voucher dengan harga yang tidak masuk akal dan jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran agar memancing minat korban.

Keluarga korban pun turut mengimbau masyarakat luas untuk lebih berhati-hati dan teliti saat melakukan transaksi secara daring, khususnya di media sosial yang belum memiliki sistem perlindungan konsumen yang terjamin. Masyarakat diminta memverifikasi identitas penjual, mengecek rekam jejak akun, serta mewaspadai penawaran yang terkesan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Pengamat keamanan digital juga mengingatkan, pelaku kejahatan siber kini semakin cerdik dalam beraksi. Mereka kerap memanfaatkan foto menarik, testimoni rekayasa, hingga akun dengan jumlah pengikut tinggi guna menciptakan citra terpercaya. Karena itu, pengawasan orang tua dinilai sangat krusial. Orang tua diharapkan lebih aktif mendampingi anak dalam beraktivitas di dunia maya serta memberikan edukasi mengenai bahaya penipuan dan cara menjaga keamanan data serta keuangan.

“Anak-anak dan remaja sering menjadi sasaran empuk karena cenderung mudah percaya pada hal-hal menarik yang mereka lihat di internet. Pendampingan dan edukasi sejak dini adalah kunci utama pencegahan,” tambah pengamat tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, akun yang diduga menjadi pelaku belum memberikan tanggapan maupun klarifikasi terkait dugaan penipuan tersebut. Kasus yang dialami Aqiilah diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pengguna internet, khususnya kalangan pelajar, agar lebih waspada dan memahami pentingnya keamanan bertransaksi di era digital.

Pos terkait