SULSELBERITA.COM. GOWA – Mengantisipasi tingginya risiko bencana tanah longsor di kawasan perbukitan, 15 mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Tim Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) SPACE Fakultas Teknik UH menyelenggarakan kegiatan pelatihan kesiapsiagaan bencana. Bertempat di Masjid Nurul Halal, Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Kamis (16/7/2026), kegiatan ini mengusung tema “Pelatihan Pertolongan Pertama dan Penggunaan Alat Keselamatan Darurat”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pakkatuju Saat Bencana serta selaras dengan pengembangan sistem mitigasi bencana berbasis masyarakat (SITULUNG). Penyelenggaraan mendapat sambutan antusias dari berbagai elemen: perangkat desa, kepala dusun, Ketua Karang Taruna, petugas Puskesmas Pembantu (Pustu), anggota Palang Merah Remaja (PMR) SMA Negeri 6 Gowa, hingga warga setempat.
Kehadiran lintas sektoral ini dinilai sangat krusial, mengingat topografi Desa Lonjoboko yang terjal menuntut kemandirian warga dalam memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada menit-menit kritis pascabencana. Langkah darurat ini terbukti mampu meningkatkan peluang keselamatan korban hingga 40 persen sebelum tim medis resmi tiba di lokasi.
Edukasi difasilitasi langsung secara komprehensif oleh tenaga kesehatan Puskesmas Parangloe, dipimpin Kepala Unit Gawat Darurat (UGD) Jumiati, S.Kep., Ns., didampingi perawat pelaksana Astuti, S.Kep., Fitriani, A.Md.Kep., dan Fitriani Tahir, S.Kep., Ns.
Dalam pemaparan materi, tim medis menekankan penguasaan prinsip 3A: Aman Diri, Aman Lingkungan, dan Aman Korban sebagai prosedur mutlak untuk mencegah jatuhnya korban susulan di area bencana. Suasana berlangsung semakin interaktif saat peserta diajak langsung berperan dalam simulasi tanggap darurat, memberikan gambaran nyata mengenai situasi di lapangan.
Warga dilatih langkah penyelamatan secara berurutan: mulai mengecek respons kesadaran, membuka jalan napas dengan metode head tilt dan chin lift, hingga praktik Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan 30 kali kompresi dada diiringi dua napas buatan. Peserta juga diajarkan penerapan “Posisi Miring Mantap” bagi korban yang mulai sadar, guna mencegah risiko tersedak cairan.
Selain penanganan medis, masyarakat dibekali kemampuan mengenali tanda-tanda alam pralongsor secara dini, kebiasaan menyiapkan tas siaga darurat, serta komitmen mematuhi jalur evakuasi saat krisis terjadi.
Pihak Puskesmas Parangloe menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif ini. “Pelatihan ini memiliki nilai guna sangat besar. Kami berharap warga kini lebih siap dan paham langkah taktis yang harus diambil saat bencana terjadi, sehingga mampu melakukan penyelamatan mandiri tanpa harus menunggu bantuan dari luar,” ujar perwakilan tim tenaga kesehatan.




